Kejawen, pembentukan katanya berasal dari kata Jawi (artinya adalah Jawa, tetapi dalam tingkat bahasa yang halus/ tinggi) diimbuhi ke-an, menjadi kejawian (seperti pembentukan kata “kasepuhan“). Kata kejawian ini, dengan keluwesan “lidah orang Jawa”, meluruh menjadi kejawen . Kejawian atau kejawen memiliki arti yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawi atau Jawa –dalam hal ini orang [...]
Budaya Terbuka v.s. Budaya Gedibal: Kejawen Perlu Diluruskan Kembali Salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantukan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul. Kepicikan dan kejumudan yang didasari oleh [...]
Ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat. Kebodohan dan Ketersesatan Jaman dahulu, orang-orang di jaman itu bisa memahami bagaimana pengaruh alam terhadap kondisi manusia. Sehingga muncul “ilmu” yang memahami pengaruh perubahan-perubahan alam terhadap kondisi manusia, misalkan posisi bulan & matahari, siang & malam, dll. Salah satu pengaruh perubahan alam ini adalah pengaruh [...]
Keterpurukan Masyarakat Jawa Peran kerajaan-kerajaan (berlabel) Islam di Jawa –sejak Demak, Cirebon, Banten, Pajang, hingga Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta (kemudian juga ada Mangkunegaran sebagai sempalannya) dan Kasultanan Ngayogyakarta– pada perkembangan (terutama secara kuantitas) Islam di Jawa bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan. Namun, mungkin benar juga kata PAT bahwa salah satu keterpurukan masyarakat [...]