<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OdyDasa &#187; bubur tumpang</title>
	<atom:link href="http://blog.odydasa.web.id/tag/bubur-tumpang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.odydasa.web.id</link>
	<description>berbaring, tertidur, bertelur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Jun 2011 05:48:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Sambel Tumpang, Sambel Lethok</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 11:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Horok]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ampel]]></category>
		<category><![CDATA[boyolali]]></category>
		<category><![CDATA[bubur tumpang]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[KUD boyolali]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Mbok Nah Ampel]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Makan Elang Sari]]></category>
		<category><![CDATA[sambel lethok]]></category>
		<category><![CDATA[sambel tumpang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Sehabis berkelana di blog seorang teman, Wibisono, dan membaca tulisan dia mengenai sambel tumpang, jadi tertarik untuk berkomentar. Komentar saja, bukan tulisan tersendiri. Selama ini aku pikir sambel tumpang alias sambel lethok tuh budaya Merapi-Merbabu, jebulaknya di sragen juga terkenal luas to&#8230; Selama ini aku punya teori, bahwa di daerah Klaten-Boyolali-Salatiga, sambel tumpang sangat akrab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_111" class="wp-caption alignleft" style="width: 220px"><a href="http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/"><img class="size-full wp-image-111" title="Sambel Tumpang" src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2010/03/25122007221-1.jpg" alt="" width="210" height="158" /></a><p class="wp-caption-text">Foto sambel tumpang hasil ngembat dari: http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/</p></div>
<p>Sehabis berkelana di blog seorang teman, Wibisono, dan membaca tulisan dia mengenai sambel <a href="http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/ ">tumpang</a>, jadi tertarik untuk berkomentar. Komentar saja, bukan tulisan tersendiri.</p>
<p>Selama ini aku pikir sambel tumpang alias sambel lethok tuh budaya Merapi-Merbabu, <em>jebulaknya</em> di sragen juga terkenal luas to&#8230;</p>
<p>Selama ini aku punya teori, bahwa di daerah Klaten-Boyolali-Salatiga, sambel tumpang sangat akrab, tapi ketika berjalan ke arah timur, Boyolali timur, Sala, dan seterusnya, semakin tidak dikenal (kurang penggemar), hingga terus ke timur ke Nganjuk dan terutama Kediri sambel tumpang sangat disuka di sana.</p>
<p>Mengapa sambel tumpang ada di Kediri dan sekitarnya, kemudian melompat tahu-tahu nongol di Merapi-Merbabu, jangan-jangan terkait dengan perjalanan penyebaran budaya jaman dahulu, jaman-jaman kerajaan kuna. Jangan lupa bahwa dikenal juga ada &#8220;kebudayaan merbabu&#8221;. Aku jadi curiga, jangan-jangan sambel tumpang muncul di jaman kebudayaan itu.<br />
<span id="more-110"></span><br />
Di Boyolali kebanyakan orang suka jenis sambel tumpang yang kental berwarna coklat mantap, dan semakin ke utara ke Salatiga semakin encer dan berwarna pudar dan kemerah-merahan. Sepertinya tergantung pada jenis tempe <em>bosok</em> yang digunakan. Kekentalan juga bisa diperoleh bagi mereka yg suka menggunakan santan.</p>
<p>Pedes? Wah, ada warung-warung tradisional (maksudnya sudah jualan sejak jaman dulu) menyediakan yang super pedas, tapi ada juga yang biasa yang kira-kira anak kecil suka dan bisa mentolerir.</p>
<p>Bisa ditemui di sembarang tempat, tapi sambel tumpang favoritku adalah di seberang KUD Boyolali Kota, perempatan jalan bis dari terminal kira-kira 400 meter. Dengan Rp 1.500,- sudah bisa memperoleh sambel tumpang yang dibungkus dan siap santap. Di tempat itu setiap pagi hingga siang selalu ramai, apalagi di hari libur menjadi jujugan para pengendara sepeda yg khusus mampir ke situ, bergantian dengan hari kerja saat &#8220;customer&#8221;-nya didominasi oleh pegawa-pegawai (negeri) yang biasa <em>njajan</em> sarapan kedua sekitar jam 9-10 pagi.</p>
<p>Yang enak juga adalah &#8220;aliran&#8221; Ampel (nama kecamatan Boyolali ke arah Salatiga), di sana ada Mbok Nah, dan yg paling mantap (termasuk harganya) adalah di Rumah Makan Elang Sari, sambel lethok selera restoran. Tapi tetep ada di sembarang tempat, mungkin tiap kampung ada penjualnya, paling tidak di lingkup Boyolali Kota dan sekitarnya.</p>
<p>Tren &#8220;kuliner malam&#8221; juga merambah menu Sambel Tumpang, bahkan dg judul &#8220;Bubur Tumpang&#8221; banyak bermunculan.</p>
<p>Nasi, dengan sayur rebus (bayam, kecambah, pepaya muda, kubis), diberi sambel tumpang di atasnya menumpangi sayuran, mungkin dari situlah muncul sebutan sambel tumpang. Ada juga yang tidak suka pakai sayuran, <em>gur sambele thok</em>, maka muncullah nama sambe lethok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

