<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OdyDasa</title>
	<atom:link href="http://blog.odydasa.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.odydasa.web.id</link>
	<description>berbaring, tertidur, bertelur</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Mar 2010 11:28:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sambel Tumpang, Sambel Lethok</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 11:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Horok]]></category>
		<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[ampel]]></category>
		<category><![CDATA[boyolali]]></category>
		<category><![CDATA[bubur tumpang]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[KUD boyolali]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Mbok Nah Ampel]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Makan Elang Sari]]></category>
		<category><![CDATA[sambel lethok]]></category>
		<category><![CDATA[sambel tumpang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Sehabis berkelana di blog seorang teman, Wibisono, dan membaca tulisan dia mengenai sambel tumpang, jadi tertarik untuk berkomentar. Komentar saja, bukan tulisan tersendiri.
Selama ini aku pikir sambel tumpang alias sambel lethok tuh budaya Merapi-Merbabu, jebulaknya di sragen juga terkenal luas to&#8230;
Selama ini aku punya teori, bahwa di daerah Klaten-Boyolali-Salatiga, sambel tumpang sangat akrab, tapi ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_111" class="wp-caption alignleft" style="width: 220px"><a href="http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/"><img class="size-full wp-image-111" title="Sambel Tumpang" src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2010/03/25122007221-1.jpg" alt="" width="210" height="158" /></a><p class="wp-caption-text">Foto sambel tumpang hasil ngembat dari: http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/</p></div>
<p>Sehabis berkelana di blog seorang teman, Wibisono, dan membaca tulisan dia mengenai sambel <a href="http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/ ">tumpang</a>, jadi tertarik untuk berkomentar. Komentar saja, bukan tulisan tersendiri.</p>
<p>Selama ini aku pikir sambel tumpang alias sambel lethok tuh budaya Merapi-Merbabu, <em>jebulaknya</em> di sragen juga terkenal luas to&#8230;</p>
<p>Selama ini aku punya teori, bahwa di daerah Klaten-Boyolali-Salatiga, sambel tumpang sangat akrab, tapi ketika berjalan ke arah timur, Boyolali timur, Sala, dan seterusnya, semakin tidak dikenal (kurang penggemar), hingga terus ke timur ke Nganjuk dan terutama Kediri sambel tumpang sangat disuka di sana.</p>
<p>Mengapa sambel tumpang ada di Kediri dan sekitarnya, kemudian melompat tahu-tahu nongol di Merapi-Merbabu, jangan-jangan terkait dengan perjalanan penyebaran budaya jaman dahulu, jaman-jaman kerajaan kuna. Jangan lupa bahwa dikenal juga ada &#8220;kebudayaan merbabu&#8221;. Aku jadi curiga, jangan-jangan sambel tumpang muncul di jaman kebudayaan itu.<br />
<span id="more-110"></span><br />
Di Boyolali kebanyakan orang suka jenis sambel tumpang yang kental berwarna coklat mantap, dan semakin ke utara ke Salatiga semakin encer dan berwarna pudar dan kemerah-merahan. Sepertinya tergantung pada jenis tempe <em>bosok</em> yang digunakan. Kekentalan juga bisa diperoleh bagi mereka yg suka menggunakan santan.</p>
<p>Pedes? Wah, ada warung-warung tradisional (maksudnya sudah jualan sejak jaman dulu) menyediakan yang super pedas, tapi ada juga yang biasa yang kira-kira anak kecil suka dan bisa mentolerir.</p>
<p>Bisa ditemui di sembarang tempat, tapi sambel tumpang favoritku adalah di seberang KUD Boyolali Kota, perempatan jalan bis dari terminal kira-kira 400 meter. Dengan Rp 1.500,- sudah bisa memperoleh sambel tumpang yang dibungkus dan siap santap. Di tempat itu setiap pagi hingga siang selalu ramai, apalagi di hari libur menjadi jujugan para pengendara sepeda yg khusus mampir ke situ, bergantian dengan hari kerja saat &#8220;customer&#8221;-nya didominasi oleh pegawa-pegawai (negeri) yang biasa <em>njajan</em> sarapan kedua sekitar jam 9-10 pagi.</p>
<p>Yang enak juga adalah &#8220;aliran&#8221; Ampel (nama kecamatan Boyolali ke arah Salatiga), di sana ada Mbok Nah, dan yg paling mantap (termasuk harganya) adalah di Rumah Makan Elang Sari, sambel lethok selera restoran. Tapi tetep ada di sembarang tempat, mungkin tiap kampung ada penjualnya, paling tidak di lingkup Boyolali Kota dan sekitarnya.</p>
<p>Tren &#8220;kuliner malam&#8221; juga merambah menu Sambel Tumpang, bahkan dg judul &#8220;Bubur Tumpang&#8221; banyak bermunculan.</p>
<p>Nasi, dengan sayur rebus (bayam, kecambah, pepaya muda, kubis), diberi sambel tumpang di atasnya menumpangi sayuran, mungkin dari situlah muncul sebutan sambel tumpang. Ada juga yang tidak suka pakai sayuran, <em>gur sambele thok</em>, maka muncullah nama sambe lethok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Defrag. Contiguous, dan Booting dari ISO file.</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/16/defrag-contiguous-dan-booting-dari-iso-file/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/16/defrag-contiguous-dan-booting-dari-iso-file/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 10:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Do It Your Self]]></category>
		<category><![CDATA[ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Keminter]]></category>
		<category><![CDATA[contig]]></category>
		<category><![CDATA[defrag]]></category>
		<category><![CDATA[ufd]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/2010/03/16/defrag-contiguous-dan-booting-dari-iso-file/</guid>
		<description><![CDATA[
Defrag sekarang baru menjadi hal yang penting di UFD-ku (UFD: USB flash disk). Berawal dari boot from ISO file di UFD (http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/boot-from-iso-file-on-ufd-hd/) untuk ISO Ubuntu melalui Grub, yg membutuhkan file kernel dan intrd image, kemudian ke sembarang ISO file yg &#8220;dijalankan&#8221; melalui chainloader. 
Ternyata untuk itu file ISO harus contiguous, alias ter-defragmented (data dalam sektor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img hspace="20" alt="defrag-icon" vspace="20" align="left" src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2010/03/defrag-icon.png" width="62" height="62" /><br />
Defrag sekarang baru menjadi hal yang penting di UFD-ku (UFD: USB flash disk). Berawal dari boot from ISO file di UFD (<a href="http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/boot-from-iso-file-on-ufd-hd/">http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/boot-from-iso-file-on-ufd-hd/</a>) untuk ISO Ubuntu melalui Grub, yg membutuhkan file kernel dan intrd image, kemudian ke sembarang ISO file yg &#8220;dijalankan&#8221; melalui chainloader. </p>
<p>Ternyata untuk itu file ISO harus contiguous, alias ter-defragmented (data dalam sektor yg terurut pada hardisk, tidak terpisah-pisah/ fragmented). Ada contig.exe dari Sysinternal (<a href="http://download.sysinternals.com/Files/SysinternalsSuite.zip">http://download.sysinternals.com/Files/SysinternalsSuite.zip</a>). Namun hal itu sia-sia jika kondisi disk tidak terdefrag dengan baik.</p>
<p align="center"><img hspace="20" alt="defrag" vspace="20" src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2010/03/defrag.png" width="450" height="328" /></p>
<p>Jadi lah, menjalankan Disk Defragmenter dari Windows XP (yg selama ini gak aku suka). Baru kemudian menjalankan contig lagi.<br />
Versi GUI dari Contig (WContig) bisa diperoleh di: <a href="http://www.mdtzone.it/Files/WContig.zip">http://www.mdtzone.it/Files/WContig.zip</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/16/defrag-contiguous-dan-booting-dari-iso-file/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CyberLecture menggunakan Claroline</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/cyberlecture-menggunakan-claroline/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/cyberlecture-menggunakan-claroline/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 13:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/cyberlecture-menggunakan-claroline/</guid>
		<description><![CDATA[
Ketika ada jodoh bisa membantu teman berdiri di muka mahasiswa-mahasiswa suatu perguruan tinggi (di depan siswa dengan segala ke-MAHA-annya, di tempat pendidikan yang levelnya tinggi), nampaknya kemalasanku untuk selalu ontime dalam menyediakan materi mengajar cukup mengganggu.
Hand-out yang belum jadi, SAP yang tertunda-tunda, harus dicarikan jalan bagaimana agar bisa diterima oleh para siswa-bermaha tersebut.
Tradisi pertukaran data [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/lecture_claroline.png" alt="lecture claroline" hspace="20" vspace="20" width="225" height="252" align="left" /></p>
<p>Ketika ada jodoh bisa membantu teman berdiri di muka mahasiswa-mahasiswa suatu perguruan tinggi (di depan siswa dengan segala ke-MAHA-annya, di tempat pendidikan yang levelnya tinggi), nampaknya kemalasanku untuk selalu <em>ontime</em> dalam menyediakan materi mengajar cukup mengganggu.</p>
<p>Hand-out yang belum jadi, SAP yang tertunda-tunda, harus dicarikan jalan bagaimana agar bisa diterima oleh para siswa-bermaha tersebut.</p>
<p>Tradisi pertukaran data melalui internet memang sangat membantu. Namun, jika setiap saat harus mendistribusikannya melalui email, tentu bakal merepotkan. Menyiapkan file-nya saja sudah ketahuan malasnya, maka dapat dibayangkan jika disuruh tertib waktu dalam berkirim materi lewat email akan seberapa malasnya.<span id="more-98"></span></p>
<p>Menyimpan file di repositori online di internet, tentu jadi jawaban. Kapanpun ada yang butuh, tidak perlu mengkontakku, tinggal cari di daftar koleksi yang aku punya. Hanya saja, sistem yang ada kurang aku sukai, tidak felksibel terhadap kebutuhanku.</p>
<p>Akhirnya, dengan menyediakan space pada hosting yang aku sewa, aku pasang sistem yang mengadopsi sistem kelas secara online. Di kampus tempat aku diberi kesempatan untuk mengajar sebenarnya memiliki sistem yang cocok untuk itu (<a href="http://klasiber.uii.ac.id/">http://klasiber.uii.ac.id/</a>). Sayangnya, sebagai tenaga pengajar lepas aku belum memiliki kesempatan untuk menikmati fasilitas itu. Setelah tanya ke sana ke mari dengan Om Gugel, nampaknya mbak Claroline (<a href="http://www.claroline.net/">http://www.claroline.net/</a>) menjadi tambatan pilihanku.</p>
<p>Simak saja di <a href="http://lecture.odydasa.web.id/">http://lecture.odydasa.web.id/</a>. Walaupun baru 1 mata kuliah yang bisa aku sediakan di situ, itu pun sama sekali jauh dari kata cukup untuk bisa disebut kelas online, karena miskinnya materi yang aku sediakan. Namun, sepertinya aplikasi mbak Claroline cukup menjanjikan, karena fasilitas yang disediakan mencukupi, mulai dari outline mata kuliah (course description), agenda/ jadwal, pengumuman, dokumen untuk menyimpan materi-materi, pengerjaan soal secara online, forum diskusi, manajemen peserta (pendaftaran, grup, users), chat, dan ada juga Wiki di dalamnya untuk membuat ensiklopedia.</p>
<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/lecture_layout.png" alt="lecture layout" hspace="20" vspace="20" width="450" height="310" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/cyberlecture-menggunakan-claroline/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Boot from ISO file on UFD/ HD</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/boot-from-iso-file-on-ufd-hd/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/boot-from-iso-file-on-ufd-hd/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 13:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Do It Your Self]]></category>
		<category><![CDATA[ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Keminter]]></category>
		<category><![CDATA[BlogDesk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/boot-from-iso-file-on-ufd-hd/</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s quiet long time ago, for having and idea of directly booting an ISO file (CD/ DVD image) of a instaler CD or LiveCD, like Ubuntu CD, instead burn it to the disc or extract the content into UFD (USB flash disk) or hardisk. Now, we can do it using GNU GRUB (&#8220;GRUB&#8221; for short) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It&#8217;s quiet long time ago, for having and idea of directly booting an ISO file (CD/ DVD image) of a instaler CD or LiveCD, like Ubuntu CD, instead burn it to the disc or extract the content into UFD (USB flash disk) or hardisk. Now, we can do it using GNU GRUB (&#8220;GRUB&#8221; for short) as a boot loader package from the GNU Project (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/GNU_GRUB">http://en.wikipedia.org/wiki/GNU_GRUB</a>).</p>
<p><strong>Main Files: Kernel, RAM disk, ISO file</strong></p>
<p>We will use the files from Linux installer, it&#8217;s kernel and it&#8217;s initial root filesystem (RAM disk or intrd image). This initrd image contains a lot of executables and drivers for mounting the real root filesystem. When real real root filesystem is mountet, the initrd is unounted, then the memory is freed. Both files are named differently in different distros. Find it it Table 1 for the names.</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2">
<tbody>
<tr>
<td colspan="3">Table 1: Names of kernel and RAM disk images in some popular distros</td>
</tr>
<tr>
<td><strong>Distro</strong></td>
<td><strong>Kernel path in CD</strong></td>
<td><strong>RAM disk path in CD</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Fedora</td>
<td valign="top">/isolinux/vmlinuz</td>
<td valign="top">/isolinux/initrd.img</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">RHEL5/CentOS5</td>
<td valign="top">/isolinux/vmlinuz</td>
<td valign="top">/isolinux/initrd.img</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">openSUSE</td>
<td valign="top">/boot/i386/loader/linux</td>
<td valign="top">/boot/i386/loader/initrd</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Mandriva</td>
<td valign="top">/i586/isolinux/alt0/vmlinuz</td>
<td valign="top">/i586/isolinux/alt0/all.rdz</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Ubuntu</td>
<td valign="top">/casper/vmlinuz</td>
<td valign="top">/casper/initrd.gz</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Debian</td>
<td valign="top">/install.386/vmlinuz</td>
<td valign="top">/isolinux/initrd.img</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3">┬á</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Now, here we are, preparing our UFD for booting from ISO file, and make it from Windows. In this case we will use kernel and initrd image from Ubuntu 9.04, and try to boot Ubuntu.<br />
So, we can use:</p>
<ul>
<li>Grub installer.<br />
There are some tools to make it under Windows to make a UFD to be Grub bootable, e.g. grub4dos (<a href="https://sourceforge.net/projects/grub4dos">https://sourceforge.net/projects/grub4dos</a>, <a href="https://gna.org/projects/grub4dos/">https://gna.org/projects/grub4dos/</a> or <a href="http://sarovar.org/projects/grub4dos/">http://sarovar.org/projects/grub4dos/</a>), including WinGrub and grubinst in it.<br />
But, I prefer to use WinSetupFromUSB (<a href="http://www.msfn.org/board/install-usb-winsetupfromusb-gui-t120444.html">http://www.msfn.org/board/install-usb-winsetupfromusb-gui-t120444.html</a>). For advance usage, we even can use this to install multiple boot of several Windows and Linux.</li>
<li>Ubuntu ISO, you can download from any repository you like, e.g.<br />
<a href="http://releases.ubuntu.com/jaunty/ubuntu-9.04-desktop-i386.iso">http://releases.ubuntu.com/jaunty/ubuntu-9.04-desktop-i386.iso</a></li>
<li>Kernel and initrd image files from Ubuntu CD ISO (ubuntu-9.04-desktop-i386.iso)<br />
You can open ISO file with WinRAR.</li>
<li style="LIST-STYLE-TYPE: none">
<ul>
<li>vmlinuz</li>
<li>initrd.gz</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><span id="more-89"></span></p>
<p><strong>Steps</strong></p>
<p>Now, we can start the steps:</p>
<ol>
<li>Prepare the UFD<br />
If necessary, we can format it first. It&#8217;s recommended we use FAT32 format.<br />
<img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/wingrub-format.gif" alt="wingrub-format" hspace="10" vspace="10" width="225" height="301" /><br />
For advance user, there is a nice tools to do that. Find it in:<br />
<a href="http://h20000.www2.hp.com/bizsupport/TechSupport/SoftwareDescription.jsp?lang=en&amp;cc=us&amp;mode=3&amp;taskId=135&amp;swItem=MTX-UNITY-I23839">http://h20000.www2.hp.com/bizsupport/TechSupport/SoftwareDescription.jsp?lang=en&amp;cc=us&amp;mode=3&amp;taskId=135&amp;swItem=MTX-UNITY-I23839</a></li>
<li>Make UFD bootable (with Grub)<br />
It will be easier if we use WinSetupFromUSB, but you can try another applications.<br />
<img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/winsetupfromusb-3.png" alt="winsetupfromusb" hspace="20" vspace="20" width="450" height="467" /><br />
Don&#8217;t touch enything, unless &#8220;USB Disk Selection&#8221;, &#8220;Copy setup boot files only&#8221;, and &#8220;Test in QEMU&#8221;.<br />
After finished, the UFD will be &#8220;Grub-bootable&#8221;, and has these files:<br />
<code><br />
J:\default<br />
J:\grldr</code><br />
Save it into your UFD (e.g. J:\), enter file name with <code>menu.lst</code>, and don&#8217;t forget to change &#8220;Save as type&#8221; into &#8220;All Files&#8221;Type these lines into <code>menu.lst</code> file:<br />
<code>color white/black yellow/black<br />
timeout 5<br />
default /default title Ubuntu<br />
find --set-root --ignore-floppies /ubuntu/vmlinuz<br />
kernel /ubuntu/vmlinuz iso-scan/filename=/ubuntu/ubuntu-9.04-desktop-i386.iso quiet splash boot=casper persistent --<br />
initrd /ubuntu/initrd.gz<br />
boot</code></p>
<p>That code means that Grub will make a boot menu, with 5 seconds of timeout before boot into first menu (with &#8220;Ubuntu&#8221; title). In the &#8220;Ubuntu&#8221; title, Grub will try to find <code>/ubuntu/vmlinuz</code> as root, run <code>vmlinuz</code> to open <code>ubuntu-9.04-desktop-i386.iso</code> ISO file, then open <code>initrd.gz</code> as RAM disk image.Please note that the line in kernel is long line, the next line is initrd.<br />
That code also enabling the persistent Ubuntu (recognize the word &#8220;<code>persistent</code>&#8221; in the kernel line code). But, it requires <code>J:\casper-rw</code> file (it can be made later).</p>
<p>From now on, UFD has these files:<br />
<code>J:\default<br />
J:\grldr<br />
J:\menu.lst<br />
J:\ubuntu\initrd.gz<br />
J:\ubuntu\ubuntu-9.04-desktop-i386.iso</code><br />
<code>J:\ubuntu\initrd.gz</code></li>
<li>Copy ISO file to UFD<br />
Copy the downloaded ISO file (ubuntu-9.04-desktop-i386.iso) into UFD. We can make a folder (e.g. &#8220;boot&#8221; and copy the ISO in it)</li>
<li>Copy 2 files (<code>vmlinuz</code> kernel and <code>initrd.gz</code> initrd image) from ISO into UFD<br />
Open ISO file (ubuntu-9.04-desktop-i386.iso) with WinRAR, copy <code>vmlinuz</code> and <code>initrd.gz</code> from &#8220;Casper&#8221; folder of the ISO.<br />
Copy it in UFD, e.g. in &#8220;ubuntu&#8221; folder.</li>
<li>Make/ edit menu.lst of the Grub<br />
If not exist make <code>menu.lst</code> file in J:\.<br />
We can use Notepad, and save it into the respective name.<br />
<img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/notepad-1.png" alt="notepad" hspace="20" vspace="20" width="450" height="315" /></li>
<li>Boot for first time<br />
<img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/grub.png" alt="grub" hspace="20" vspace="20" width="450" height="276" /><br />
<img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/ubuntu-boot.png" alt="ubuntu-boot" hspace="20" vspace="20" width="450" height="337" /><br />
<img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/ubuntu-desktop.png" alt="ubuntu-desktop" hspace="20" vspace="20" width="450" height="360" /></li>
<li>Create <code>casper-rw</code> file<br />
If <code>casper-rw</code> file is provided, then we can make ISO-boot Ubuntu persistent.<br />
Don&#8217;t close the 1st booting, we need it to make the <code>casper-rw</code> file.<br />
Open terminal, enter /isodevice<br />
<code>$ cd /isodevice<br />
</code><br />
Create a 512 MB file, named casper-rw.<br />
<code>$ sudo dd if=/dev/zero of=casper-rw bs=1M count=512<br />
</code><br />
Format the casper-rw file<br />
<code>$ sudo mkfs.ext3 -F casper-rw</code></li>
<li>In case, you are not satisfied with the size of casper-rw, and want to resize:<br />
<code>$ sudo dd if=/dev/zero bs=1M count=1024 &gt;&gt; casper-rw<br />
$ sudo resize2fs casper-rw</code></li>
<li>Ready</li>
</ol>
<p><strong>Ubuntu 9.10</strong></p>
<p>As it&#8217;s already mentioned above, the main files are kernel and RAM disk image. Just extract those files from Ubuntu 9.10 ISO file. The files in CD are located on:<br />
<code>/casper/vmlinuz<br />
/casper/initrd.lz</code></p>
<p>Note that the RAM disk image file has extension <code>.lz</code></p>
<p>If you want to save Ubuntu 9.04 and Ubuntu 9.10 (and kernel &amp; RAM disk files) in the same folder, just feel free rename them, and adjust the respective names in the <code>menu.lst</code>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/boot-from-iso-file-on-ufd-hd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telkom: Orientasi Berganti, Komitmen Pun Dikemanakan?</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 16:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[BisTel]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[commited to you]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>
		<category><![CDATA[pelanggan]]></category>
		<category><![CDATA[telkom]]></category>
		<category><![CDATA[the world in your hand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa minggu terakhir beredar logo baru Telkom dan komentar-komentar mengenainya, malam ini baru aku benar-benar memperhatikan bagaimana logo baru itu.
Kesan pertama: bagus. Bagus, dalam arti Telkom mau mengubah diri dengan suatu citra yang lebih cerah, dengan tetap mendominankan warna biru sebagai ciri khas selama ini. Berani meninggalkan logo lama yang tidak cocok dengan suasana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/kantor_telkom.jpg" alt="kantor telkom" hspace="10" vspace="10" width="200" height="123" align="left" />Setelah beberapa minggu terakhir beredar logo baru Telkom dan komentar-komentar mengenainya, malam ini baru aku benar-benar memperhatikan bagaimana logo baru itu.</p>
<p>Kesan pertama: bagus. Bagus, dalam arti Telkom mau mengubah diri dengan suatu citra yang lebih cerah, dengan tetap mendominankan warna biru sebagai ciri khas selama ini. Berani meninggalkan logo lama yang tidak cocok dengan suasana (dunia) yang lebih cerah dan lebih terbuka. Kesan berikutnya: lucu. Yakin, pertama melihat kok langsung tercetak di otak gambaran mengenai ayam jantan ya? Agak-agak cupu, kata komentator di Kaskus.<span id="more-56"></span></p>
<p>Ada makna filosofi dengan adanya logo baru itu, tentu. Makna yang bagiku pribadi tidak terlalu penting. Walaupun logo yang &#8220;old-school&#8221; lebih punya <em>soul</em>, dan logo yang baru agak kekanak-kanakan dan kurang profesional, berani berubah, itu hal yang penting. Perubahan yang penting sebagai &#8220;<em>charging</em>&#8221; semangat bagi para pegawai BUMN ini.</p>
<p>Bagian yang kukira sebagai <em>jengger</em> alias jambul ayam jantan, ternyata bisa dilihat sebagai tangan melambai, pernyataan selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa depan. Namun, lambaian tangan itu sebenarnya bukanlah arti logo.</p>
<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/telkom_baru.png" alt="telkom baru" hspace="10" vspace="10" width="200" height="107" align="left" /><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/telkom_lama.png" alt="telkom lama" hspace="10" vspace="10" width="120" height="150" align="left" /></p>
<p>Filosofi baru akan berhubungan dengan strategi baru. Efisiensi dan produktivitas merupakan isu yang muncul sejak lama, menjadi <em>world class company</em> tetap jadi impian utama, dan Telkom pun berkepentingan untuk mengakuisisi berbagai perusahaan di luar negeri menjadi bagian dalam <em>holding group</em>-nya. Apalagi ketika perusahaan-perusahaan dari luar negeri telah mencaplok operator ini itu di negeri ini, Telkom jangan sampai ketinggalan dalam perebutan kue.<br />
<strong>The World in Your Hand</strong></p>
<p>Di-<em>softlaunch-</em>kan sudah pada tanggal 16 Oktober 2009, dan malam ini, Jumat tanggal 23 Oktober 2009 pukul 20.30 s.d. 21.30 WIB ada acara <em>live</em> TransTV untuk peluncuran yang sebenarnya, bersamaan dengan Indigo Awards, sekaligus sebagai penanda ulang tahun Telkom. Saya tidak menonton.</p>
<p>Perubahan ini menjelaskan visi baru Telkom di bidang telekomunikasi, informasi, media, <em>edutainment</em>. Dengan <em>positioning</em> berupa &#8220;<em>Life Confident</em>&#8220;, Telkom mengusung <em>tagline</em> yang juga baru, yaitu &#8220;<em>The World Is In Your Hand</em>&#8220;. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, <em>tagline</em> baru, <em>brand positioning</em> &#8220;<em>Life Confident</em>&#8220;. Diharapkan, pesan &#8220;<em>Life Confident</em>&#8221; sendiri langsung membangkitkan optimisme.</p>
<p>Jadi, sekarang tidak ada lagi slogan &#8220;<em>Comitted 2 You</em>&#8220;.</p>
<p>Nah, siap-siap saja, komitmen Telkom tidak lagi untuk kita, para pelanggannya.</p>
<p><em>Quo vadis,</em> mau dibawa kemana Telkom?</p>
<p>┬á</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Minggu kemarin, ada petugas yang menangani PSB (pasang baru) telepon di rumah di samping rumahku, selisih satu rumah. Petugas tersebut tanpa <em>unggah ungguh</em> dan kasar dalam menjalankan tugasnya. Jadilah dia sebagai bahan <em>gerundelan</em> ibu-ibu di sekitarku. Ditambah lagi, gara-gara dia yang main sogok kabel di sana-sini, matilah jalur telepon di rumah, dan celakalah internetku (Heran, telepon dites tidak ada nada panggil, dilakukan <em>incoming call</em> ada nada panggil, tetapi Speedy tetap nyambung walaupun dengan <em>rate</em> sebesar 1/10 dari normalnya. Untung kenal dengan Pak Bos Telkom di kotaku, aku memberikan komplain dengan malu-malu (gak enak harus <em>ngrusuhi</em>, dan karena tahu itu bukan pegawai Telkom melainkan tenaga lepas), jadilah jalur teleponku berfungsi normal kembali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenang Pak Andi</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/09/19/mengenang-pak-andi/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/09/19/mengenang-pak-andi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 23:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[andi hakim nasoetion]]></category>
		<category><![CDATA[dayeuhkolot]]></category>
		<category><![CDATA[it telkom]]></category>
		<category><![CDATA[stt telkom]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/2009/09/19/mengenang-pak-andi/</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 2 Mei 2008 yang lalu Rektor IPB meresmikan Gedung Andi Hakim Nasoetion yang sebelumnya dikenal sebagai Gedung Rektorat IPB, bersamaan dengan peringatan Hardiknas. Sebelumnya, awal tahun ini, beliau merupakan salah satu dari guru besar yang mendapat anugerah &#8220;Anugeraha Sewaka Winayaroha&#8221;. Agak terlambat, bahwa beliau telah meninggal 6 tahun sebelumnya, tepatnya pada malam tanggal 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 2 Mei 2008 yang lalu Rektor IPB meresmikan Gedung Andi Hakim Nasoetion yang sebelumnya dikenal sebagai Gedung Rektorat IPB, bersamaan dengan peringatan Hardiknas. Sebelumnya, awal tahun ini, beliau merupakan salah satu dari guru besar yang mendapat anugerah &#8220;Anugeraha Sewaka Winayaroha&#8221;. Agak terlambat, bahwa beliau telah meninggal 6 tahun sebelumnya, tepatnya pada malam tanggal 4 Maret 2002.</p>
<p>Namun, ada beberapa kenangan yang ternyata juga terlambat untuk dituliskan. Salah satunya adalah tulisan ini.<span id="more-43"></span></p>
<p>Saya bukan keluarga besar IPB, tetapi salah satu yang ikut merasakan pengaruh Pak Andi, ketika beliau memimpin STT Telkom. Walau belum pernah ikut ke kelasnya (tidak mengajar di jurusan saya), tetapi saya kadang &#8220;menanggap&#8221; cerita teman-teman yang mendapatkan kuliah beliau. Dan ternyata kesan yang saya tangkap: pusing kalau kuliah diajar profesor.</p>
<p>Memang, untuk dapat mengikuti &#8220;obrolan&#8221;, (paling tidak bagi saya) harus konsentrasi penuh, selain untuk menangkap kejelasan ucapan (karena mungkin saat berbicara, bibir beliau kurang terbuka), juga untuk mencerna maksud kata-kata yang diucapkan.</p>
<p>Kadang kala untuk memahami ucapannya, kita harus berpikir keras, atau bahkan harus menebak dan mengira-kira apa maksudnya. Ketika suatu saat pers mahasiswa menurunkan terbitan yang agak nyentil, beliau melalui sekretarisnya (yang cantik, tentu), menitipkan memo yang berisi: Thomas Alfa Edison suatu ketika membuat percobaan di gerbong kereta, dan percobaannya itu meledak.<br />
Kira-kira seperti itu kata-katanya, dan cukup membuat kami seruang redaksi harus bermain tebak-tebakan.</p>
<p>Pak Andi senang melontarkan &#8220;humor-humor kelas tinggi dan serius&#8221; yang membuat pendengarnya tertawa belakangan setelah mereka berhasil mengerti. Itu pun setelah Pak Andi terbahak-bahak sendiri dengan lelucon yang barusan dilontarkannya.</p>
<p>Ada yang menilai bahwa model gurauan seperti ini adalah model amerika. Kita dipaksa berpikir untuk mendapatkan inti dari gurauan.Jadi, ketika gurauan dijalankan, akan terdapat 2 golongan penikmat gurauan:<br />
1. Yang mengerti dan langsung tertawa<br />
2. Yang gak mengerti, lalu bertanya kepada yang mengerti, baru tertawa.</p>
<p><strong>Keakraban, Bulan Madu yang Usai, dan Bocah Tua Nakal</strong></p>
<p>Walau tidak secara langsung jadi murid, saya sempat beberapa kali berkesempatan bertemu langsung dan berdiskusi dalam meja kecil yang sama di ruang kerja beliau. Ada kebanggaan ketika itu, bahwa sebagai &#8220;pejabat kampus&#8221;, di sela-sela kesibukan beliau menata kampus (yang saat itu dapat dikatakan amburadul), menyempatkan diri bertemu secara rutin dengan wakil mahasiswa dari Masjid, Senat Mahasiswa, dan jurnalistik. Saya ada di dua bagian di antaranya.</p>
<p>Pada era menjelang jatuhnya Suharto, ketika kampus lain di Bandung masih belum &#8220;berani&#8221; keluar, beliau memimpin konvoi lebih dari 1000 mahasiswa, dengan iring-iringan motor, mobil, truk, bus, sepanjang sekitar 1 km. Itu terjadi ketika salah seorang mahasiswa Trisakti tewas ditembak, dan dimakamkan di Bandung.</p>
<p>Namun, masa keakraban itu tidak lama, dan dengan ungkapan beliau &#8220;Masa bulan madu kita sudah habis&#8221;. Dalam kondisi pertentangan antara mahasiswa dan pihak institusi, beliau merasa menjadi &#8220;firewall&#8221; yang harus berbenturan dengan berbagai pihak. Eforia &#8220;pemberontakan&#8221; mahasiswa turut menyeretnya ke dalam masalah ini. Ada julukan yang sengat menyinggungnya mengenai penilaian teman-teman tentang ketidakberesan yang terjadi di kampus, yaitu &#8220;birokrat yang tidak becus&#8221;.</p>
<p>Ada juga &#8220;kekeraskepalaan&#8221; beliau dalam permasalah dalam kampus itu. Walaupun sebenarnya bisa dipahami bahwa agar masalah bisa diselesaikan masing-masing secara dewasa.</p>
<p>Beliau selesai menjadi Ketua STT Telkom, dan tidak lama kemudian jatuh sakit hingga kemudian meninggal. Secara pribadi, ada perasaan sesal yang amat dalam, karena seolah-olah permasalahan di kampus ikut memperparah sakitnya. Dengan saya ada di salah satu pelaku di dalamnya.</p>
<p>Lepas dari permasalahan itu, sebagaimana di banyak tempat beliau berada, banyak hal bermanfaat yang dibawa. Kampus yang sebelumnya Telkom-oriented jadi lebih berorientasi keilmuan, dan suasana kampus lebih berasa pendidikan. Diakui atau tidak, tidak sedikit jejak yang ditinggalkannya di STT Telkom, yang kini bernama IT Telkom.</p>
<p>Selain melalui organisasi mahasiswa, ada peristiwa yang bagi saya sangat berkesan. Ketika itu, Pembantu Ketua III yang mengurusi kemahasiswaan berasal dari militer, dan banyak teman mahasiswa yang menganggap agar bisa diganti. Bersama beberapa teman, saya membuat polling untuk itu. Ketika polling dilakukan, hari berikutnya keluar tulisan di Kompas (beliau masih rutin menulis di sana), tulisan mengenai survei.<br />
Ya. Bapak ini, setelah &#8220;perang dingin&#8221; dengan mahasiswa tidak mau menemui perwakilan mahasiswa, tapi malah justru memanfaatkan media massa nasional untuk &#8220;menurunkan ilmu&#8221; bagi anak-anaknya yang ruangannya hanya beberapa puluh meter dari ruangannya.</p>
<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/09/bocahtuanakal.jpg" alt="bocah tua nakal" width="200" height="300" align="left" />Dengan rambut putih, dan sikap yang &#8220;nyentrik&#8221;, maka ada beberapa teman di kampus yang memberikan julukan: &#8220;Bocah Tua Nakal&#8221;. Julukan seperti nama pada salah satu tokoh dalam cerita silat karangan Jin Yong yang berjudul Memanah Burung Rajawali. Bocah Tua Nakal, tokoh nyentrik, kekanak-kanakan (mungkin ini diidentikkan dengan kekeraskepalaan beliau), tetapi saktinya minta ampun. Sebuah julukan yang bercitra rasa sinis, tetapi tetap mengaku takluk, dan sekaligus ada rasa kangen di dalamnya.</p>
<p>Memang bukan masa yang lengkap kami berada dalam pengaruh didikan beliau. Namun, di sini kami menjadi salah satu bagian dari akhir masa pengajaran beliau. Maksudnya, jelas ilmu yang diberikan di sini tidak lengkap, tetapi ada bagian-bagian akhir pemahaman yang &#8220;diturunkan&#8221; kepada kami ^_^. Salah satunya adalah, di sini beliau ikut &#8220;berkenalan&#8221; dengan permasalah IT dan telekomunikasi. Yang (mungkin) kemudian dibawa sebagai oleh-oleh ketika kembali ke IPB hingga menjelang sakitnya. (Ini hanya klaim pribadi. Hehehe. )</p>
<p>Sekarang ini, sudah 6 tahun beliau wafat. Kehilangan, jelas. Ada seorang bapak dan sekaligus guru yang seakan hilang sosoknya, dan tak akan pernah kembali. Tetapi, dengan semua yang pengaruh ditinggalkannya, beliau tidak pernah mati dalam kenangan dan semangat kami. Termasuk jadi tidak lagi &#8220;alergi&#8221; dengan matematika dan statisika.</p>
<p><strong>Menara 13 dan Dayeuhkolot</strong></p>
<p>Ada istilah di kampus STT Telkom saat itu, yaitu Menara 13. Itu mengacu pada adanya 13 menara telekomunikasi di seputar kampus, yang menjadi peran utama disiarkannya Proklamasi Kemerdekaan RI ke seluruh dunia pada Agustus 1945. Namun, dengan alasan biaya operasional yang tinggi, menara-menara itu dibongkar dan dibesituakan. Tidak jelas juga siapa yang memiliki otorisasi di sini, entah Telkom atau pemerintah.</p>
<p>Atas usaha Pak Andi, situs bersejarah ini dapat dipertahankan 2 diantaranya, itupun karena letaknya ada di dalam pagar kampus.</p>
<p>Semangat beliau untuk &#8220;nguri-uri&#8221; jejak sejarah bangsa di kampus ini tidak kalah dengan ketika mempertahankan bangunan kampus IPB sebagai bangunan sejarah.</p>
<p>Juga tak canggung dan bahkan bangga dengan lokasi Dayeuhkolot (sebagai salah satu lokasi perjuangan jaman dulu dan juga peristiwa Bandung Lautan Api). Sehingga, ketika memberikan sambutan di hadapan peserta paduan suara se-Indonesia yang ketika itu diadakan di STT Telkom, setelah bercerita tentang peran 13 tower itu, ucapannya adalah: &#8220;Selamat datang di Dayeuhkolot.&#8221;</p>
<p>Sementara banyak &#8220;penghuni&#8221; kampus ini yang minder dengan ke-Dayeuhkolot-an, dan iri dengan mereka yang berada lebih &#8220;ke kota&#8221;, Pak Andi justru bangga.</p>
<p>(Catatan: STT Telkom/ IT Telkom ada di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat)</p>
<p><strong>Semangat Membaca dan Menulis</strong></p>
<p>Meski dalam ukuran banyak orang Pak Andi sudah berhasil di bidangnya (dibuktikan dengan penerbitan banyak tulisan tentang statistika di jurnal internasional &#8211; sebuah prestasi yang patut mendapatkan acungan jempol mengingat masih sedikit para sarjana Indonesia yang mau dan mampu menulis dengan baik di luar penulisan skripsi, tesis, atau disertasi mereka), menurut pengakuan Pak Andi sendiri bidang pendidikan yang membesarkan namanya agak menyimpang dari skenario awal dirinya sendiri ataupun sang dosen promotornya yaitu menjadi Ilmuwan Statistika terkenal di dunia.</p>
<p>Dalam beberapa tulisan Pak Andi yang pernah dirangkum dalam sebuah buku dan kemudian diterbitkan dengan judul Daun-Daun Berserakan: Percikan Pemikiran Mengenai Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan, tampak jelas ambisi dan cita-citanya. Ambisi dan cita-cita yang selalu terpatri erat dalam tiap benak sebagian besar muridnya yang membuat banyak muridnya tampil ke depan pentas keilmuan dengan beragam keahlian.</p>
<p>Pak Andi bercita-cita akan terwujudnya sebuah perkumpulan masyarakat keilmuan, tempat memupuk persaudaraan dan perkembangan ilmu. Sebagai &#8220;pabrik otak&#8221; bagi pembahasan dan penyebaran ilmu dan pengalaman dari satu orang kepada yang lainnya dan juga kepada khalayak ramai. Pak Andi juga mendorong dan memotivasi banyak muridnya untuk terus menyebarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam bentuk tulisan ilmiah populer dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna. Hal ini penting untuk menjembatani para ahli dari pelbagai bidang ilmu sehingga mereka mampu menghasilkan sebuah karya yang komprehensif, yang membumi dan mudah untuk diaplikasikan. Sebuah cita-cita yang amat mulia.</p>
<p>Membaca dan menulis adalah life skills yang utama. Tulisan Prof. Andi Hakim tersebar di banyak media dan dalam beragam bentuk tulisan. Dari tulisan-tulisannya kita tahu bahwa ia gemar membaca dan memiliki wawasan yang sangat luas mengenai banyak hal. Di antara karya tulisnya itu, yang berbentuk buku ada 23 judul, antara lain Anak-anak Bintang Pari [Balai Pustaka, 1950]; Statitistik Pertanian [Yasaguna, 1967]; Matahari, Manusia, dan Makanan [Balai Pustaka, 1983]; Metode Statistik [Gramedia, ...]. Dan dari honorarium menulis inilah ia membeli rumah yang terakhir ditempatinya di Kompleks Bogor Baru Blok A-6/6, Bogor.<br />
Bahwa Prof. Andi Hakim bisa membeli rumah dari honor menulis sedikitnya menunjukkan bahwa bila kaum akademisi konsisten menghasilkan karya tulis, maka mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk dapat bertahan hidup secara bermartabat, tanpa harus disibukkan dengan berbagai &#8220;proyek&#8221; yang bisa menyimpangkan jiwa keguruannya.</p>
<p>Paragraf-paragraf itu merupakan kutipan yang menggambarkan pelajaran yang bisa diambil pada Pak Andi mengenai membaca dan menulis.</p>
<p>Sedangkan saya punya kesan mendalam mengenai Pak Andi, sehubungan dengan penulisan buku. Bagi mahasiswa (terutama teknik) di Bandung, ada tempat bernama Dunia Baru, yang merupakan surga bagi para pencari buku murah meriah. Mengapa murah meriah, karena buku-buku asing yang aseli yang sangat susah dieproleh dan begitu mahal harganya, akan bisa diperoleh di tempat itu dalam wujud foto-copy dengan ahrga jauh di bawah harga aselinya. Ada beberapa tempat foto-copy di sekitar kampus STT Telkom yang juga menjalankan &#8220;bisnis&#8221; seperti itu (baca: pembajakan buku).</p>
<p>Ketika berkesempatan menengok salah satu tempat foto-copy itu, Pak Andi menemukan sebuah buku karya temannya kuliah saat di Amerika ada di tempat itu. Dan mengingat bagaimana susahnya menyusun buku, Pak Andi bercerita bahwa dia menangis mengetahui buku temannya di sini dibajak dengan bebas.</p>
<p>Tidak tahu mengapa, tetapi kemudian jadi ingin ikut menangis.</p>
<p>Ide cerita dan sumber beberapa kutipan:</p>
<p><a href="http://aminhers.wordpress.com/2008/03/18/mengenang-6-tahun-wafatnya-prof-andi-hakim-nasoetion/">http://aminhers.wordpress.com/2008/03/18/mengenang-6-tahun-wafatnya-prof-andi-hakim-nasoetion/</a><br />
<a href="http://pembelajar.com/wmprint.php?ArtID=266">http://pembelajar.com/wmprint.php?ArtID=266</a><br />
<a href="http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/03/3/man02.html">http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/03/3/man02.html</a></p>
<p>Pernah dimuat di:</p>
<p><a href="http://odydasa.multiply.com/journal/item/2">http://odydasa.multiply.com/journal/item/2</a> (22/05/08, &#8217;08 6:33 AM)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/09/19/mengenang-pak-andi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/09/15/hello-world/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/09/15/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 17:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Keminter]]></category>
		<category><![CDATA[hello world]]></category>
		<category><![CDATA[jokes]]></category>
		<category><![CDATA[language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/09/15/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkalian Dua Bilangan dengan Angka Puluhan yang Sama</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/03/27/perkalian-dua-bilangan-dengan-angka-puluhan-yang-sama/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/03/27/perkalian-dua-bilangan-dengan-angka-puluhan-yang-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 03:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keminter]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>
		<category><![CDATA[dua bilangan]]></category>
		<category><![CDATA[kuadrat]]></category>
		<category><![CDATA[matematika]]></category>
		<category><![CDATA[perkalian]]></category>
		<category><![CDATA[perkalian cepat]]></category>
		<category><![CDATA[puluhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/2009/03/27/perkalian-dua-bilangan-dengan-angka-puluhan-yang-sama/</guid>
		<description><![CDATA[Biar otak gak beku karena rutinitas, mari kita mencoba me-review kembali aritmatika.
Di bawah ini adalah beberapa persamaan yang bisa digunakan untuk perhitungan perkalian dua buah bilangan (atau kuadrat, jika kedua bilangan adalah sama), yang besarnya di bawah 100.

Persamaan Perkalian Dua Bilangan #1:
Ada dua bilangan dengan angka puluhan yang sama (misalkan ada angka 23, maka puluhan=2, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biar otak gak beku karena rutinitas, mari kita mencoba me-review kembali aritmatika.<br />
Di bawah ini adalah beberapa persamaan yang bisa digunakan untuk perhitungan perkalian dua buah bilangan (atau kuadrat, jika kedua bilangan adalah sama), yang besarnya di bawah 100.</p>
<ol>
<li>Persamaan Perkalian Dua Bilangan #1:<br />
Ada dua bilangan dengan angka puluhan yang sama (misalkan ada angka 23, maka puluhan=2, satuan=3) yang dikalikan. Misalkan keduanya memiliki angka angka puluhan &#8220;a&#8221;, serta &#8220;b&#8221; dan &#8220;c&#8221; untuk satuannya, sehingga bilangan pertama adalah &#8220;(a+b)&#8221; serta bilangan kedua adalah &#8220;(a+c)&#8221;.<span style="font-family: Courier New;">a+b)*(a+c)<br />
= a*a + a*b + a*c + b*c<br />
= a*(a+b+c) + b*c<br />
= ( (a+b) + c ) * a + b*c<br />
</span><br />
Dari persamaan pertama ini, maka &#8220;(a+b)&#8221; adalah bilangan pertama ditambah dengan &#8220;c&#8221; sebagai satuan bilangan kedua, dikalikan &#8220;a&#8221; sebagai puluhannya, kemudian ditambah dengan perkalian kedua satuan (&#8220;b*c&#8221;).</p>
<p>Misalkan ada angka 22 dan 27 (a=20, b=2, c=7, a+b=22):</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">22*27 = (22 + 7) * 20 + 2*7 = 29*20 + 14 = 580 + 14 = 594</span></p>
<p>Perhatikan angka puluhannya, itu digunakan sebagai pengali<br />
<span style="font-family: Courier New;">12*13 = (12+3)*10 + 6 = 15*10 + 6 = 150 + 6 = 156<br />
18*17 = (18+7)*10 + 56 = 25*10 + 56 = 300 + 56 = 306<br />
22*23 = (22+3)*20 + 6 = 25*20 + 6 = 500 + 6 = 506<br />
32*33 = (32+3)*30 + 6 = 35*30 + 6 = 1.050 + 6 = 1.056<br />
52*53 = (52+3)*50 + 6 = 55*50 + 6 = 2.750 + 6 = 2.756<br />
98*97 = (98+7)*90 + 56 = 105*90 + 56 = 9.450 + 56 = 9.506<br />
</span><br />
Rumit?<br />
Persamaan itu akan sangat bermanfaat untuk angka belasan.<br />
Misalkan perkalian antara 12 dan 17</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">12*17 = (12+7) * 10 + 2*7 = 19*10 + 14 = 190 + 14 = 204</span> <span id="more-16"></span></li>
<li>Persamaan Perkalian Dua Bilangan #2:<br />
Sekarang, misalkan kedua bilangan disimbolkan dengan &#8220;(a-b)&#8221; dan &#8220;(a-c)&#8221;, maka misalkan ada bilangan 18, berarti (20-2), atau &#8220;(a-b)&#8221; dengan &#8220;a=20&#8243; dan &#8220;b=2&#8243;.<span style="font-family: Courier New;">(a-b)*(a-c)<br />
= a*a &#8211; a*c &#8211; a*b + b*c<br />
= a*(a-b-c) + b*c<br />
= ( (a-b) &#8211; c ) * a + b*c<br />
</span><br />
Dari persamaan kedua, maka &#8220;(a-b)&#8221; adalah bilangan pertama dikurangi dengan &#8220;c&#8221; sebagai satuan bilangan kedua, dikalikan &#8220;a&#8221; sebagai puluhannya, kemudian ditambah dengan perkalian kedua satuan (&#8220;b*c&#8221;).</p>
<p>Misalkan ada angka 22 dan 27, dengan 22=30-8 dan 27=30-3 (a=30, b=8, c=3, a-b=22):</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">22*27 = (22 &#8211; 3)*30 + 8*3 = 19*30 + 21 = 570 + 24 = 594</span></p>
<p>Hasilnya sama dengan hasil perhitungan dengan persamaan pertama<br />
Rumit?<br />
Persamaan itu akan sangat bermanfaat untuk angka yang mendekati angka 100.<br />
Misalkan perkalian antara 92 dan 97 (di sini angka puluhan di atasnya adalah 100)</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">92*97 = (100-8)*(100-3) = (92-3)*100 + 8*3 = 89*100 + 24 = 8.900 + 24 = 8.924<br />
</span></li>
<li>Persamaan Kuadrat Suatu Bilangan<br />
Sekarang, jika kedua bilangan yang dikalikan adalah sama, dengan kata lain menghitung kuadrat suatu bilangan:<span style="font-family: Courier New;">(a+b)*(a+b)<br />
= ( (a+b) + b ) * a + b*b<br />
</span><br />
Dari persamaan ketiga ini, maka sebagai bilangan yang hendak dikuadratkan, &#8220;(a+b)&#8221; ditambah dengan &#8220;b&#8221; sebagai satuannya, dikalikan &#8220;a&#8221; sebagai puluhannya, kemudian ditambah dengan kuadrat satuannya (&#8220;b*b&#8221;).</p>
<p>Misalkan angka 27 hendak dikuadratkan (a=20, b=7):</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">27*27 = (27 + 7) * 20 + 7*7 = 34*20 + 49 = 680 + 49 = 729 <span style="font-family: Courier New;"><font face="Courier New">┬á</p>
<p></font></span>┬á</p>
<p></span></p>
<p>Jika diterapkan di angka <span style="font-family: @Arial Unicode MS;">yang</span> lain:<br />
<span style="font-family: Courier New;">17^2 = (17 + 7) * 10 + 7^2 = 24*10 + 49 = 240 + 49 = 289<br />
34^2 = (34 + 4) * 30 + 4^2 = 38*30 + 16 = 1.140 + 16 = 1.156<br />
61^2 = (61 + 1) * 60 + 1^2 = 62*60 + 1 = 3.720 + 1 = 3.721<br />
99^2 = (99 + 9) * 90 + 9^2 = 108*90 + 81 = 9.720 + 81 = 9.801<br />
</span><br />
Atau jika hendak mengembangkan penggunaan persamaan yang kedua:</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">(a-b)(a-b)<br />
= ( (a-b) &#8211; b ) * a + b*b<br />
</span><br />
Dari persamaan keempat ini, maka sebagai bilangan yang hendak dikuadratkan, &#8220;(a-b)&#8221; dikurangi dengan &#8220;b&#8221; sebagai satuannya, dikalikan &#8220;a&#8221; sebagai puluhannya, kemudian ditambah dengan kuadrat satuannya (&#8220;b*b&#8221;).</p>
<p>Misalkan angka 27 hendak dikuadratkan (a=30, b=3):</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">27*27 = (27 &#8211; 3) * 30 + 3*3 = 24*30 + 9 = 720 + 9 = 729<br />
</span><br />
Pilihan penggunaan dan pengembangan antara rumus pertama dan kedua dapat dipertimbangkan berdasar kerumitan angkanya. Misalkan dengan angka belasan akan lebih sederhana menggunakan pengembangan persamaan pertama (persamaan ketiga), sedangkan jika mendekati 100 akan lebih sederhana menggunakan pengembangan persamaan kedua (persamaan keempat).</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">17^2 = (17 + 7) * 10 + 7^2 = 24*10 + 49 = 240 + 49 = 289<br />
99^2 = (99 &#8211; 1) * 100 + 1^2 = 98*100 + 1 = 9.800 + 1 = 9.801<br />
</span></li>
<li>Persamaan Kuadra Bilangan Bersatuan &#8220;5&#8243;:<br />
Untuk bilangan yang memiliki satuan &#8220;5&#8243;, misalkan &#8220;15&#8243; dan &#8220;95&#8243;, maka persamaan ketiga dapat dikembangkan persamaan berikut:<br />
<span style="font-family: Courier New;"><br />
(a+b)*(a+b)<br />
= ( (a+b) + b ) * a + b*b<br />
= a * ( a + b + b) + b*b ; b = 5<br />
= a * ( a + 5 + 5) + 5*5<br />
= a * ( a + 10) + 25 <span style="font-family: Courier New;"><font face="Courier New">┬á</p>
<p></font></span>┬á</p>
<p></span>Dari persamaan kelima ini, maka puluhan bilangan tersebut dikalikan dengan puluhan yang ditambah dengan 10, atau &#8220;a*(a+10)&#8221;, kemudian ditambah 25.</p>
<p>Atau jika hendak mengembangkan dari persamaan keempat,</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">(a-b)*(a-b)<br />
= ( (a-b) &#8211; b ) * a + b*b<br />
= a * ( a &#8211; b &#8211; b) + b*b ; b = 5<br />
= a * ( a &#8211; 5 &#8211; 5) + 5*5<br />
= a * ( a &#8211; 10) + 25<br />
</span><br />
Dari persamaan kelima ini, maka puluhan bilangan tersebut dikalikan dengan puluhan yang dikurangi dengan 10, atau &#8220;a*(a-10)&#8221;, kemudian ditambah 25.</p>
<p><span style="font-family: Courier New;">95^2 = 90*(90+10) + 25 = 90*100 + 25 = 9.000 + 25 = 9.025<br />
85^2 = 80*(80+10) + 25 = 80*90 + 25 = 7.200 + 25 = 7.225<br />
45^2 = 40*(40+10) + 25 = 40*50 + 25 = 2.000 + 25 = 2.025<br />
15^2 = 10*(10+10) + 25 = 10*20 + 25 = 200 + 25 = 225<span style="font-family: Courier New;"><font face="Courier New">95^2 = 100*(100-10) + 25 = 100*90 + 25 = 9.000 + 25 = 9.025<br />
85^2 = 90*(90-10) + 25 = 90*80 + 25 = 7.200 + 25 = 7.225<br />
45^2 = 50*(50-10) + 25 = 50*40 + 25 = 2.000 + 25 = 2.025<br />
15^2 = 20*(20-10) + 25 = 20*10 + 25 = 200 + 25 = 225</p>
<p></font></span>┬á</p>
<p></span></p>
<p>┬á</li>
</ol>
<p>Ringkasan:</p>
<ol>
<li>Perhitungan praktis untuk perkalian angka belasan<br />
<span style="font-family: Courier New;">(a+b)*(a+c) = ( (a+b) + c ) * a + b*c </span></li>
<li>Perhitungan praktis untuk perkalian angka mendekati 100<br />
<span style="font-family: Courier New;">(a-b)*(a-c) = ( (a-b) &#8211; c ) * a + b*c </span></li>
<li>Perhitungan praktis untuk pengkuadratanangka mendekati 10<br />
<span style="font-family: Courier New;">(a+b)^2 = ( (a+b) + b ) * a + b*b </span></li>
<li>Perhitungan praktis untuk pengkuadratanangka mendekati 100<br />
<span style="font-family: Courier New;">(a-b)^2 = ( (a-b) &#8211; b ) * a + b*b </span></li>
<li>Perhitungan praktis untuk pengkuadratan dengan angka satuan 5<br />
<span style="font-family: Courier New;">(a+5)^2 = a * (a+10) + 25<br />
(a-5)^2 = a * (a-10) + 25<br />
</span></li>
</ol>
<p>Demikian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/03/27/perkalian-dua-bilangan-dengan-angka-puluhan-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembuatan PCB dari Gambar di Kertas</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/05/11/pembuatan-pcb-dari-gambar-di-kertas/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/05/11/pembuatan-pcb-dari-gambar-di-kertas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 17:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Do It Your Self]]></category>
		<category><![CDATA[Elektronika]]></category>
		<category><![CDATA[Keminter]]></category>
		<category><![CDATA[foto kopi]]></category>
		<category><![CDATA[kertas transfer]]></category>
		<category><![CDATA[pcb]]></category>
		<category><![CDATA[plastik transparan]]></category>
		<category><![CDATA[printed circuit board]]></category>
		<category><![CDATA[printer laser]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/05/11/pembuatan-pcb-dari-gambar-di-kertas/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar jalur rangkaian yang dicetak di kertas dengan menggunakan printer laser dapat dipindahkan ke media PCB. Cara kerja printer laser adalah memanasi bubuk tinta sehingga menempel di kertas. Setelah tinta menempel di kertas, tinta dipindah ke PCB dengan cara dipanasi juga. Oleh karena itu, yang bisa digunakan adalah hasil cetakan printer laser, dan bukan printer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gambar jalur rangkaian yang dicetak di kertas dengan menggunakan printer laser dapat dipindahkan ke media PCB. Cara kerja printer laser adalah memanasi bubuk tinta sehingga menempel di kertas. Setelah tinta menempel di kertas, tinta dipindah ke PCB dengan cara dipanasi juga. Oleh karena itu, yang bisa digunakan adalah hasil cetakan printer laser, dan bukan printer tinta cair.</p>
<p>Kertas yang digunakan bisa dengan kertas blueprint, atau kertas transfer, atau ada yang ide pakai kertas foto untuk printer, yang jelas idenya adalah memindahkan tinta printer laser ke PCB dengan cara dipanasi.</p>
<p>Dari beberapa kali percobaan, kertas yang pernah saya pakai adalah kertas transfer dan kertas foto. Tapi berhubung mahal, aku eksperimen dengan yang lain, yaitu kertas biasa dan kertas kalender (diprint di bagian belakang yang putih polos). Hasil untuk kertas kalender lumayan, yang kertas HVS kurang bagus, tapi lumayan untuk penghematan, dan menurutku bisa ditingkatkan jika mau lebih telaten.<span id="more-11"></span></p>
<p>Ada lagi cara yang bisa digunakan, yaitu mencetak gambar rangkaian di kertas biasa, kemudian dengan foto kopi, gambar itu disalin ke plastik transparansi/ OHP. Yang perlu dicatat, plastik ini khusus untuk foto kopi, sehingga relatif tahan panas. Berbeda dengan plastik mika yang digunakan pada penjilidan, plastik transparansi ini lebih tebal dan lebih tahan panas. Jadi, jangan sampai keliru memilih.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan adalah, gambar yang dicetak harus dalam kondisi dibalik (<em>mirror</em>/ <em>flip</em>, ditukar kiri dan kanannya, bukan diputar/ <em>rotate</em>). Aplikasi Protel memiliki fasilitas untuk mencetak dengan tipe <em>mirror</em>.</p>
<p>Pemanasannya biasanya pakai setrika. Sudah aku coba, lebih bagus lagi kalau pakai solder blower. Ukuran panasnya, kalau memakai standar printer laser (suhu untuk melumerkan tinta), bisa dibaca di tempat printernya, sekitar 130 derajat C.</p>
<p>Permasalahan yang sering muncul:</p>
<ul>
<li>Terlalu panas<br />
=&gt; lapisan tembaga PCB jadi rusak, PCB melengkung</li>
<li>Panas kurang merata<br />
=&gt; tinta printer laser jadi tidak semua menempel di PCB<br />
=&gt; kalau dengan blower jadi bisa lebih diratakan panasnya</li>
<li>Kertas bergeser<br />
=&gt; gambar jalur jadi rusak</li>
</ul>
<p>Tips:</p>
<ul>
<li>Potong PCB secukupnya<br />
Ukuran PCB kira-kira lebih besar dari ukuran gambar jalur di kertas</li>
<li>Kertas ditempel ke PCB<br />
Sisa kertas dilipat ke balik PCB dan direkatkan ke balik PCB (bagian yang tidak bertembaga) dengan isolasi kertas (kalau pakai kertas HVS pelipatannya tidak sekaku kertas lain)</li>
<li>Salah satu pojok gambar disetrika sedikit<br />
Pojok gambar disetrika hingga kertas menempel di PCB (supaya gambar tidak bergeser), baru kemudian ke bagian lain.</li>
<li>Pemanasan dengan setrika lebih baik dengan ditekan-tekan<br />
Intinya memanasi kertas yang terkena tinta, bukan dengan menggosok seperti menyetrika baju agar kertas tidak lengket dengan setrika dan bergeser dari PCB.<br />
Pemanasan dengan blower dapat lebih teliti lagi dengan mengikuti tiap jalur.</li>
</ul>
<p>Setelah tinta menempel di PCB, pada dasarnya yang dibutuhkan adalah tinta tersebut dan kertas printout harus dihilangkan. Dengan menggunakan air, kertas ini jadi hancur (PCB dimasukkan ke air, digosok-gosok dengan tangan, atau media lain asal jangan merusak tinta). Hasilnya, PCB dengan gambar jalur dari tinta laser (warna hitam, atau agak putih karena sisa kertas). Perlu ditelusuri lagi jalurnya agar untuk menghilangkan sisa kertas, biasanya aku memakai jarum pentul untuk mengorek. Untuk perbaikan jalur yang belum kena tinta bisa mengunakan spidol permanen<br />
(misalkan untuk OHP).</p>
<p>Melarutkan PCB yang telah bergambar jalur rangkaian, biasanya menggunakan larutan FeCl3 (feri klorida) yang sebaiknya hangat (kalau terlalu panas kalau kena tubuh kan berbahaya) supaya mempercepat pelarutan, kalau perlu sambil digoyang-goyang. hati-hati jangan kena baju, soalnya sangat susah dihilangkan.</p>
<p>Setelah tembaga di PCB di luar jalur terlarut, sisa tinta laser harus dihilangkan. yang praktis mungkin pakai amplas halus atau abu gosok, tetapi menggerus jalur tembaga. Aku biasanya pakai tiner tinta sablon (mudah dicari di toko bahan sablon) kemudian dicuci pakai sabun colek.</p>
<p>Sekedar hasil pengalaman. Semoga bermanfaat.</p>
<hr noshade="noshade" />Yang perlu dipersiapkan</p>
<ul>
<li>Kertas tempat untuk mencetak<br />
(kertas blue print, kertas transfer, kertas foto, kertas kalender)<br />
Bisa juga kertas biasa, dengan catatan nantinya dipindah menggunakan foto kopi ke plastik<br />
transparansi</li>
<li>Printer laser</li>
<li>Aplikasi untuk mencetak<br />
Untuk file-file PCB, bisa menggunakan aplikasi CAD semacam Protel, jika gambar sudah dalam bentuk PDF atau berupa file gambar, maka gunakan aplikasi yang sesuai</li>
<li>PCB dengan ukuran sedikit lebih besar daripada gambar</li>
<li>Setrika dan solder blower</li>
<li>Isolasi kertas<br />
Untuk mengeratkan penempelan kertas pada PCB</li>
<li>Feri Klorida, atau sejenis<br />
Untuk melarutkan tembaga PCB yang tidak tertutup oleh tinta</li>
<li>Air<br />
Untuk menghilangkan kertas, setelah kertas dan tinta menempel pada PCB</li>
<li>Ampelas halus, abu gosok, atau pelarut/ tiner tinta sablon<br />
Untuk menghilangkan tinta pada PCB, setelah dilakukan pelarutan PCB</li>
<li>Sabun<br />
Untuk membersihkan sisa-sisa tiner. sabun colek mudah diperoleh dan mampu membersihkan<br />
dengan baik</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/05/11/pembuatan-pcb-dari-gambar-di-kertas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejawen (Bagian Awal)</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/03/01/kejawen-bagian-awal/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/03/01/kejawen-bagian-awal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 11:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/03/01/kejawen-bagian-awal/</guid>
		<description><![CDATA[Kejawen, pembentukan katanya berasal dari kata Jawi (artinya adalah Jawa, tetapi dalam tingkat bahasa yang halus/ tinggi) diimbuhi ke-an, menjadi kejawian (seperti pembentukan kata &#8220;kasepuhan&#8220;). Kata kejawian ini, dengan keluwesan &#8220;lidah orang Jawa&#8221;, meluruh menjadi kejawen .
Kejawian atau kejawen memiliki arti yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawi atau Jawa &#8211;dalam hal ini orang Jawa&#8211;, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kejawen</em>, pembentukan katanya berasal dari kata Jawi (artinya adalah Jawa, tetapi dalam tingkat bahasa yang halus/ tinggi) diimbuhi ke-an, menjadi kejawian (seperti pembentukan kata &#8220;<em>kasepuhan</em>&#8220;). Kata kejawian ini, dengan keluwesan &#8220;lidah orang Jawa&#8221;, meluruh menjadi <em>kejawen</em> .</p>
<p><em>Kejawian</em> atau <em>kejawen</em> memiliki arti yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawi atau Jawa &#8211;dalam hal ini orang Jawa&#8211;, dalam segala sendi kehidupan.<span id="more-9"></span></p>
<p><strong><em>Kejawen</em> = Kultur Jawa</strong><br />
<em>Kejawen</em> memiliki kedekatan arti dengan kultur Jawa, yang berarti juga melingkupi bagaimana seorang Jawa itu bertingkah polah menjalani hidup.<br />
Karena berupa kultur, <em>kejawen</em> juga melingkupi pola pikir serta sikap dan pola kehidupan. Sehingga orang Jawa yang memiliki pola pikir serta sikap dan pola kehidupan yang tidak sesuai dengan kultur Jawa akan dianggap sebagai orang yang tidak Jawa (tidak &#8220;<em>njawani</em>&#8220;).</p>
<p>Pola-pola seperti <em>andhap asor</em> (santun), <em>tepa slira</em> (tenggang rasa), menghormati orang lain, guyub dan suka menolong, bersahaja, hidup dalam harmoni, serta mendekat dengan alam termasuk di dalamnya. Orang Jawa yang egois, kasar/ arogan, dan lupa dengan asal usulnya akan dianggap sebagai orang yang tidak &#8220;<em>njawani</em>&#8220;.</p>
<p>Pembentukan diri agar memiliki pola pikir serta sikap kehidupan sebagai orang Jawa, dilalui dengan berbagai pola kehidupan tertentu, misalkan lelaku prihatin (untuk menempa diri agar kuat dan peka) dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong><em>Kejawen</em>, Ritual, Klenik, dan Penyelewengan-penyelewengan itu</strong><br />
Namun, pola hidup ini tidak identik dengan ritual. Orang yang ingin hidup bersahaja hanya perlu menerapkan kebersahajaan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak perlu dilalui dengan ritual tertentu yang berpeluang menjadi topeng kepalsuan. Ritual berbagi rejeki untuk saling membantu, hanya akan menjadi kepalsuan bila dalam kesehariannya dikenal sebagai orang yang pelit dan kikir.</p>
<p>Justru ritual-ritual yang palsu seperti ini pada dasarnya bukan asli Jawa, melainkan bawaan dari budaya asing melalui asimilasi budaya Hindu, Budha, dan Islam. Bahkan budaya Kristen pun ikut-ikutan berasimilasikan dan mengaku sebagai budaya Jawa, dan dapat dilihat di berbagai wilayah di sekitar Magelang atau Kediri.</p>
<p>Ritual-ritual hasil asimilasi ini yang seringkali tidak dipahami &#8220;filsafat dan ilmu&#8221;-nya oleh orang Jawa, sehingga terjadilah ritual-ritual tanpa ilmu yang akhirnya menjadi klenik. (Tentang klenik, ada di <a title="Ilmu &amp; Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)" href="http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/">posting sebelumnya</a>)</p>
<p>Tanpa landasan pemahaman ilmu dan filsafat yang melatarbelakanginya, pehamanan akan bergeser. Jika ingin menempa diri agar kuat dan peka, maka pemahaman atas &#8220;kuat&#8221; ini menjadi bermacam-macam. Lelaku prihatin yang awalnya agar menjadi kuat dalam menjalani hidup (kuat mental, kuat jiwa, kuat spiritual, kuat keyakinan, kuat dalam niat dan kemauan, sembada, kuat dalam pengendalian diri, dan seterusnya), termasuk kuat dalam arti fisik (kekuatan olah ragawi dan kekuatan hasil olah kanuragan), kemudian bergeser hanya satu sisi saja, misalkan hanya dipahami kuat dalam arti olah kanuragan. Akhirnya, proses lelaku yang dijalani pun menjadi berbeda niatnya, dan lahirlah klenik.</p>
<p>Ketika hidup bersama alam, ditemukan adanya keseimbangan dan kehamonisan, dan ini yang kemudian menjadi landasan dalam tatanan kehidupan, hidup yang harmonis. Dalam usaha untuk memahami kehidupan, masyarakat Jawa menemukan bahwa kehidupan itu tidak lepas dari hidup bermasyarakat. Sehingga, penghormatan atas hadirnya individu lain, kesantunan, dan hidup saling membutuhkan adalah syarat untuk harmoni dalam masyarakat. Sikap hidup yang sesungguhnya menggambarkan adanya sikap egaliter dalam kehidupan masyarakat Jawa.</p>
<p>Namun, ada beberapa hal yang kemudian dipahami secara salah. Hamonis kemudian dipahami secara salah menjadi antikonflik. Menghormati orang lain dipahami secara salah menjadi rendah diri yang berlebihan dan penjilatan kepada yang lebih berkuasa atau berharta.</p>
<p>Peka berarti harus memahami segala sesuatu yang tidak biasa, agar kemudian bisa mawas diri. Ketika ada suatu kesalahan yang dilakukan, dan orang-orang di sekitarnya justru diam, harus bisa dipahami bahwa sikap diam itu adalah cara agar pelaku kesalahan menjadi peka atas apa yang telah dilakukannya. Mendiamkan ini adalah upaya untuk memperkecil konflik. Jika tidak peka, maka hal itu dianggap sebagai hal yang menyakitkan bagi orang lain. Semacam &#8220;kebangetan banget, sih. Kok tidak sadar juga&#8221;. Untuk mereduksi konflik, sering kali orang Jawa bersikap: &#8220;ngalah, ngalih, ngamuk&#8221;. Pertama kali adalah mengalah, mendiamkan agar tidak terjadi konflik yang tidak perlu. Jika masih belum sadar, maka &#8220;ngalih&#8221;, menghindari, agar emosi tidak merusak suasana. Kemudian, jika masih belum sadar, langkah tegas diperlukan untuk itu, walau tidak harus berari &#8220;mengamuk&#8221;.</p>
<p>Pemahaman yang salah terhadap hal ini juga sering terjadi, dan dikenalah orang Jawa secara salah sebagai orang yang pendiam, tetapi pendendam. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa dibalik sikap yang rendah hati dan menghormati, tersimpan pula sifat kasar dan ganas. (Mungkin pada dasarnya orang Jawa memang kasar dan ganas, dan oleh sebab itu ada <em>kejawen</em> untuk meredam dan mengarahkan)</p>
<p>Dalam mawas diri dan pembentukan kepekaan diri, dikenal ada istilah &#8220;guru sejati&#8221;. Guru adalah yang dianggap mampu mendidik dan mengarahkan, dan guru yang harus bisa mendidik dan mengarahkan adalah diri pribadi. Guru sejati menjadi semacam &#8220;alter ego&#8221; yang mengawasi dan melakukan pengarahan terhadap &#8220;alter ego&#8221; yang lain. Dalam klenik, guru sejati hanya dipahami sebagai pembentukan &#8220;sosok lain&#8221;, yang kemudian bersinggungan dengan &#8220;raga sukma&#8221;, maupun kemunculan &#8220;kembaran&#8221; di tempat lain pada saat bersamaan.</p>
<p>Kepekaan diasah dengan usaha untuk bisa ikut merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh yang lain. Kebersahajaan (meninggalkan kemewahan) dan lelaku prihatin (merasakan lapar dan kesusahan hidup), merupaan upaya untuk itu. Namun, kemudian muncul ritual-ritual, seperti bertapa dan berbagai jenis puasa (ngebleng, pati geni, mutih, ngrowot, dan seterusnya), yang jelas-jelas merupakan asimilasi dari budaya asing. Karena sebenarnya lelaku itu adalah keseharian, bukan ritual. Ritual yang dilakukan secara rajin, tetapi dalam keseharian masih bergelimang kemewahan dan tidak peduli akan kesusahan hidup yang dialami yang lain, hanyalah berupa topeng kepalsuan, dan tidak akan mengupayakan kepekaan.</p>
<p>Kepekaan diasah pula dengan mendekatkan diri dengan alam, agar bisa menangkap tanda-tanda yang diberikan oleh alam. Salah satu hasil mengasah kepekaan ini adalah &#8220;ilmu <em>titen</em>&#8220;, yang &#8220;<em>niteni</em>&#8220;, meneliti, mencermati berbagai tanda-tanda. Ilmu <em>titen</em> ini akan menjadi klenik, jika hanya didasarkan atas hitung-hitungan saja, sedangkan tanda-tanda alam tidak lagi dicermati.</p>
<p>Hal yang praktis dalam &#8220;titen&#8221; ini adalah, orang Jawa biasanya memetakan posisi dalam arah mata angin. Sehingga wajar jika menjelaskan posisi dalam arah mata angin (&#8220;<em>lor</em>&#8220;/ utara, &#8220;<em>kidul</em>&#8220;/ selatan, &#8220;<em>wetan</em>&#8220;/ timur, dan &#8220;<em>kulon</em>&#8220;/ barat) dan bukan dalam arah kiri atau kanan. Misalkan untuk lokasi rumah, maka bisa dijelaskan menjadi: dari perempatan terminal, ke utara, kemududian ada belokan, ke barat sedikit terus ke utara lagi. Sayangnya, seringkali jika tidak paham arah mata angin, maka akan merasa bingung dan disorientasi lokasi.</p>
<p>&#8220;<em>Titen</em>&#8221; yang lain, adalah memahami waktu tanpa bantuan jam. Jika pada siang hari hal ini dapat dilakukan dengan bantuan matahari, maka di saat malam hari pemahaman waktu dilakukan dengan mencermati kondisi alam dan isinya, misalkan perilaku binatang, perilaku orang-orang, perubahan suhu, angin, atau cuaca. Akan sangat kelihatan ketika berada di wilayah yang jauh dari keramaian. Jam 8 malam biasanya bayi/ anak kecil sudah tidur, jam 10 malam angin mulai reda (bila ada obor penerangan, api dan asap mulai lurus ke atas), jam 2 pagi suhu udara mulai turun secara signifikan, dan seterusnya.</p>
<p>Untuk urusan bercocok tanam, karena sangat ditentukan oleh musim, perubahan-perubahan kondisi alam menjadi hal yang dicermati, misalkan untuk memperkirakan kedatangan musim hujan, musim angin digunakan sebagai tanda, dan jika musim angin sudah mulai reda, maka musim hujan akan segera tiba. Musim kemarau biasanya ditandai dengan perilaku hewan &#8220;<em>gareng pung</em>&#8220;, sebagaimana orang Jepang menandai musim semi berdasar perilaku cenggeret, hewan yang sejenis. Pendanaan-penandaan musim ini kemudian diwujudkan dalam sisem kalendar, dan Jawa adalah salah satu dari sedikit suku bangsa di dunia yang memiliki sistem kalendar sendiri (walau pada perkembangannya mengalami asimilasi dengan budaya lain), selain bahasa dan tulisan tersendiri. Namun, jika hanya menyandarkan diri pada perhitungan-perhitungan, dan tidak lagi mencermati tanda-tanda alam, maka terlahirlah lagi klenik, ritual-ritual yang meninggalkan filosofi dan ilmu yang melandasinya.</p>
<p>Mendekatkan diri dengan alam adalah upaya untuk mengasah kepekaan juga, agar mampu hidup harmonis dengan alam dan untuk keperluan-keperluan praktis, misalkan untuk orientasi lokasi, orientasi waktu, dan keperluan pertanian.</p>
<p><strong><em>Kejawen</em> dan Perkembangan Jaman: Asimilasi, Egoisme, atau Politik?</strong><br />
Dalam banyak sisi, <em>kejawen</em> selalu berkembang &amp; menyesuaikan diri, mulai dari era prapengaruh budaya asing, era kedatangan suku bangsa asing yang membawa berbagai budaya dan teknologi (budaya Hindu &amp; Budha, Cina, Timur Tengah dan Asia Kecil, Islam, serta bangsa barat dan Kristen), hingga pengaruh budaya global saat ini. Pun, kultur tidak hanya sebatas pola pikir dan tingkah laku, melainkan juga produk dari kultur itu sendiri, misalkan bahasa, tulisan, sastera, dan ilmu-ilmu lainnya. Konon, orang Jawa tidak akan mengenal berbagai peralatan dan teknologi bertani (bahkan bajak), jika tidak ada pengaruh dari Cina (<a title="Kechinaan dalam Budaya Jawa" href="http://kejawen.suaramerdeka.com/index.php?id=135">http://kejawen.suaramerdeka.com/index.php?id=135</a>).</p>
<p>Nah, jika sedari dahulu <em>kejawen</em> terasimilasi, tetapi tetap berciri khas Jawa, budaya Hindu tapi Jawa, Budha tapi Jawa, orang Cina tapi Jawa, Islam tapi Jawa, Kristen tapi Jawa. (Catatan mengenai Islam tapi Jawa dan bukan Arab, bisa dilihat <a title="Ilmu &amp; Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)" href="http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/">di sini</a>). Sehingga, bukan tidak mungkin pada era ini <em>kejawen</em> akan bisa bertahan seperti sebelumnya: modern tapi Jawa.</p>
<p>Walau perkembangannya, tidak hanya budaya asing yang berpengaruh, melainkan juga kepentingan-kepentingan politik, mulai dari raja-raja Jawa (yang negatif: ekseklusivitas, rasis, nonegaliter; yang positif: lahirnya ilmu-ilmu baru <em>kejawen</em> di berbagai bidang), penjajah (yang suka memutar balik fakta sejarah, karena takut budaya lokal jika nantinya maju), hingga yang sangat sangat khas dari seorang Suharto (sebagaimana penjajah, dan suka senyum, yang dapat diartikan sebagaimana diamnya orang Jawa: <em>kayak gitu kok ndak nyadar-nyadar, to</em>). Mungkin, dari seorang Suharto dunia mengenal <em>kejawen</em> , tetapi juga melalui seorang Suharto dunia tidak mengenal apa sesungguhnya <em>kejawen</em> .</p>
<p><em>Kejawen</em> adalah cara untuk berpola pikir, bersikap, dan berpola hidup sebagaimana seharusnya orang Jawa, dan tidak sama dengan klenik. Memahami <em>kejawen</em> tanpa memahami kehidupan manusia dan dan memahami alam akan menjadi klenik.</p>
<p>Bacaan lebih lanjut tentang <em>kejawen</em>, serta pola pikir &amp; sikap orang Jawa: <a href="http://kejawen.suaramerdeka.com/">http://<em>kejawen</em>.suaramerdeka.com/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/03/01/kejawen-bagian-awal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (3)</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 12:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/</guid>
		<description><![CDATA[Budaya Terbuka v.s. Budaya Gedibal: Kejawen Perlu Diluruskan Kembali
Salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantukan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.
Kepicikan dan kejumudan yang didasari oleh sikap ambigu; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Budaya Terbuka v.s. Budaya <em>Gedibal</em>: Kejawen Perlu Diluruskan Kembali<br />
</strong>Salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantukan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.</p>
<p>Kepicikan dan kejumudan yang didasari oleh sikap ambigu; menerima, tetapi menolak dominasi asing, menerima pengaruh asing, tetapi pilih-pilih, menerima pengaruh, tetapi dicampur dan direkayasa sesuai kehendak.<span id="more-8"></span></p>
<p>Kemudian, untuk melawan keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin sebagai khas pekerja dan pedangan, sekaligus untuk mengekalkan kepicikan dan kejumudan, dibuatlah paham: &#8220;<em>dedagang iku asor</em>&#8220;, berdagang itu hina. Efeknya, lahirlah para orang yang lebih rela mengabdi kepada kekuasaan, sebagai pesuruh, sebagai &#8220;<em>gedibal</em>&#8220;, <em>bala sadhukan</em>, orang-orang yang bisa ditendang ke sana ke mari, yang dilengkapi dengan etik kerja malas dan menjilat. Dua kutub yang di dunia kerja saat ini masih terus ada: menjadi buruh (swasta/ negri) atau <em>enterpreuner</em>.</p>
<p>Sedangkan ilmu dan &#8220;<em>lelaku</em>&#8221; untuk malas dan menjilat itu tidaklah serumit dan seberat pada &#8220;<em>lelaku</em>&#8221; untuk rajin dan <em>open-hearted</em>.</p>
<p>Dengan kata lain, ilmu-ilmu warisan leluhur <em>semangkin</em> lama <em>semangkin</em> hilang, <em>semangkin</em> lama tidak ada lagi yang memahami. Yang dipertahankan hanyalah hapalan terhadap label dan prosesi, tetapi tanpa ilmu yang melandasi, yang kemudian semakin diagung-agungkan. Nasib Islam mungkin tak akan jauh sebagaimana nasib gamelan yang sedianya untuk memikat masyarakat agar mau mendekat dan menerima budaya baru, tetapi bukan untuk dimanfaatkan melainkan malah disembah-sembah. Bid&#8217;ah, syirik, klenik, sesat dan menyesatkan.</p>
<p>Syukurlah, belum lama ini ada kabar bahwa UII dan UMS tergerak untuk mengkaji kultur-kultur kraton dalam kaitannya dengan Islam, yang diharapkan dapat membuka kembali ilmu-ilmu yang melandasi berbagai prosesi.</p>
<p>Kesimpulannya:</p>
<p>[] Klenik adalah amalan tanpa ilmu.</p>
<p>[] Sedangkan tradisi2 tua makin lama pemahanan keilmuannya makin hilang, dengan kata lain sering kali menjadi prosesi tanpa pemahaman keilmuan.</p>
<p>[] A=B, C=B, maka C=A</p>
<p>(Sementara) Tamat</p>
<p>p.s. SUmber data: dari berbagai artikel di internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 12:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/</guid>
		<description><![CDATA[Ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat.
Kebodohan dan Ketersesatan
Jaman dahulu, orang-orang di jaman itu bisa memahami bagaimana pengaruh alam terhadap kondisi manusia. Sehingga muncul &#8220;ilmu&#8221; yang memahami pengaruh perubahan-perubahan alam terhadap kondisi manusia, misalkan posisi bulan &#38; matahari, siang &#38; malam, dll. Salah satu pengaruh perubahan alam ini adalah pengaruh kondisi gravitasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat.</p>
<p><strong>Kebodohan dan Ketersesatan<br />
</strong>Jaman dahulu, orang-orang di jaman itu bisa memahami bagaimana pengaruh alam terhadap kondisi manusia. Sehingga muncul &#8220;ilmu&#8221; yang memahami pengaruh perubahan-perubahan alam terhadap kondisi manusia, misalkan posisi bulan &amp; matahari, siang &amp; malam, dll. Salah satu pengaruh perubahan alam ini adalah pengaruh kondisi gravitasi benda-benda angkasa terhadap emosi manusia, ketika bulan &amp; matahari dekat maka pengaruh gravitasi dari angkasa yang memiliki vektor berlawanan dg gravitasi bumi terhadap manusia sedang puncak-puncaknya.</p>
<p>Sistem kalender di Cina pun lahir karena pemahaman-pemahanan ini, dan digunakan untuk mengetahui kapan seseorang memiliki dukungan pengaruh dari alam yang paling kuat. Saat itu, raja-raja Cina menggunakan kalender agar ketika senggama bisa dalam &#8220;kondisi puncak&#8221;, baik secara lahir batin maupun dalam hal dukungan pengaruh alam (termasuk spiritual, jika sebelumnya telah menjalani &#8220;lelaku&#8221;), sehingga keturunan yang dihasilkan juga prima. Untuk memudahkan perhitungan, maka dalam penanggalan diberikan patokan-patokan dan nama-nama. Namun, ilmu yg mendasari makin lama makin tidak diketahui, dan yang semakin berkembang adalah menghapal patokan &amp; nama, dan meramalkan jika pada saat waktu tertentu, maka kondisinya adalah bla-bla-bla. Lahirlah klenik.<span id="more-7"></span></p>
<p>Jaman dulu, di kawasan Babilonia, astronomi telah dikenal dan berkembang pesat. Perubahan posisi bumi terhadap matahari dapat dilihat dari perubahan posisi rasi bintang. Jika orang-orang jaman itu, seperti halnya orang-orang Cina, memahami bahwa posisi matahari &amp; bulan mempengaruhi emosi seseorang, maka pada berbagai posisi rasi itu pengaruh alam mengalami perbedaan. Ketika astronomi mulai dilupakan pada generasi-generasi berikutnya, dan yang dihapalkan adalah patokan rasi-rasi dan pembawaan orang-orang yang kelahirannya dinaungi rasi-rasi tersebut, maka lahirlah klenik dalam wujud astrologi.</p>
<p><strong>Dari Alat Bantu Berubah Menjadi Sesembahan<br />
</strong>Walisanga mengadopsi budaya lokal agar masyarakat tidak merasa asing dengan &#8220;budaya baru&#8221;, dan lahirlah gamelan, wayang, dan seni-seni yang khas, yang tidak berbeda dengan sebelumnya, tetapi juga tidak sama. Adanya wayang kulit yang bermata satu dan bertangan panjang hingga bawah lutut, dengan mengatasnamakan artistik, tetapi sesunguhnya adalah agar wayang tidak mirip dengan manusia, karena manusia yg normal bermata dua dan bertangan yang panjangnya tidak di bawah lutut. (Entah mengapa malah wayang golek jadi mirip kembali dg manusia)</p>
<p>Gamelan, wayang, dan seni-seni lainya dimanfaatkan untuk membawa masyarakat agar mendekat kepada para wali, sehingga setelah dekat (inklusif) akan mudah untuk diajak kepada Islam. Namun, kemudian penguasa-penguasa generasi berikutnya tidak lagi inklusif, dan menolak untuk menyamakan derajat. Bahkan, sarana-sarana seni tidak lagi digunakan untuk saling mendekatkan diri, melainkan untuk disembah-sembah.</p>
<p><strong>Penyimpangan: dari Mengabaikan dan Melebih-lebihkan atau Politik?<br />
</strong>Kalender jawa mataram peninggalan Sultan Agung pada awalnya digunakan untuk kebutuhan masyarakat, terutama untuk penentuan masa-masa bertani, sekaligus untuk mendekatkan masyarakat dengan budaya Islam (walau agar &#8220;lidah lokal&#8221; bisa mudah mengucapkan, maka nama-nama bulan dan tahun pun kemudian mengalami perubahan). Masyarakat jawa mengenal bulan Pasa sebagai bulan Ramadlan, dan tahu bahwa ada ritual puasa pada saat itu.</p>
<p>Namun, penyimpangan sering berawal dari melebih-lebihkan maupun karena meremehkan. Dianggaplah &#8220;puasa Islam&#8221; itu kurang mantap, tidak seperti ketika orang2 jaman dahulu bertapa, atau paling tidak berpuasa yang lama yang terus menerus (ngebleng), atau berpuasa tetapi berbukanya yang dengan tetap lelaku juhud (misalkan &#8220;puasa mutih&#8221;, berbuka hanya dg makanan pokok tanpa bumbu dan lauk pauk, atau &#8220;puasa ngrowot&#8221; yang berbuka dg makanana yang tidak dimasak, misalkan buah atau umbi).</p>
<p>Pengaruh aliran syi&#8217;ah yang dibawa oleh sebagian wali juga memberikan pengaruh pada perkembangan Islam di Jawa. Pengagungan hari Asyu&#8217;ara membuat masyarakat Jawa demikian memuja dan mengeramatkan bulan Sura. Pengeramatan yg aneh juga, ketika orang awam ditabukan bikin acara di bulan tersebut kecuali kalau mau menanggung resiko celaka, tetapi justru para penguasa (orang keraton) membuat acara (misalkan pernikahan) di bulan itu, karena dipercaya membawa berkah yang besar.</p>
<p><strong>Jawa yang Jawa: Egoisme Orang Jawa dan Kebodohan<br />
</strong>Ketika jaman Demak, raja generasi kedua (Adipati Unus, suka memakai gelar Adipati dan bukan raja, dan menyandingkan pada gelarnya dengan nama Yunus yang merupakan ayahnya, untuk menghormati ayahnya yang merupakan Ulama besar di jamannya) yang beretnik Arab, memimpin penyerangan terhadap Portugis di Malaka. Pati Unus (yang bergelar pangeran Sabrang Lor) yang dibantu oleh orang-orang Melayu (Islam) yang terusir dari dari Malaka, akhirnya gugur bersama anaknya yang sulung dan yang ketiga. Ada desas-desus bahwa kematiannya disebabkan karena ada pihak di Demak yang menginginkan kekuasaan jika kematiannya terjadi. Selain karena perebutan kekuasaan, sentimen kesukuan juga muncul. Orang Jawa tidak rela jika dipertuan oleh orang bukan Jawa. Aneh juga, nyatanya sejak jaman penjajahan hingga sekarang selalu saja ada penguasa yang mengabdi sepenuh hati kepada orang asing.</p>
<p>Nah, kupikir itulah beberapa faktor yang menjerumuskan masyarakat, menerima orang asing tetapi menolak dominasi. Menerima pengaruh asing, tetapi ketika mampu (ketika menjadi penguasa, atau ketika tidak adalagi yang melakukan kontrol, tidak seperti pada jaman walisanga), maka hanya memilih-pilih yang menguntungkan. Ditambah lagi, mencampurnya dengan hasil pemikiran sendiri.</p>
<p>Maka lahirlah Islam Jawa (khas Mataram) yang bukan Arab. Islam tetapi hanya label (santri-priayi-abangan). Islam yang ya Islam ya makan saren (darah dari penyembelihan yang kemudian digoreng, bisa untuk obat tambah darah, katanya), ya Islam ya Ma-lima (main judi, madhat/ teler &#8211;narkoba, kalau jaman dulu biasanya candu&#8211;, minum/ mabuk-mabukan, madon/ main perempuan, dan maling), penguasa yang ya (berlabel) Islam ya menyembelih ulama. Islam tetapi penuh dengan klenik, penuh dengan prosesi tetapi tidak shalat, tidak puasa Ramadan, tidak haji, tidak zakat.</p>
<p><strong>Kejayaan di Jawa v.s di Dunia<br />
</strong>Waktu antara Mataram Islam dengan Mataram Kuna merentang berabad-abad (7/8 s.d. 15/16 ?), tetapi tetap saja terpuruk.</p>
<p>Cobalah suatu ketika membuka M$ Encarta, pada jaman ketika Mataram Kuna tengah gegap gempita dengan pembangunan Borobudur, tariklah garis vertikal, maka akan diketemukan pada jaman yang sama, di Arab sana telah lahir Shahih Bukhori.</p>
<p>Ketika di Jawa, abad demi abad, diisi dengan kejumudan, pencerahan di dunia lain tengah berkembang.</p>
<p><a title="Ilmu &amp; Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (3)" href="http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/">Bersambung</a></p>
<p>p.s. Sumber data: dari berbagai artikel di internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 11:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/</guid>
		<description><![CDATA[Keterpurukan Masyarakat Jawa
Peran kerajaan-kerajaan (berlabel) Islam di Jawa &#8211;sejak Demak, Cirebon, Banten, Pajang, hingga Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta (kemudian juga ada Mangkunegaran sebagai sempalannya) dan Kasultanan Ngayogyakarta&#8211; pada perkembangan (terutama secara kuantitas) Islam di Jawa bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan.
Namun, mungkin benar juga kata PAT bahwa salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Keterpurukan Masyarakat Jawa</strong><br />
Peran kerajaan-kerajaan (berlabel) Islam di Jawa &#8211;sejak Demak, Cirebon, Banten, Pajang, hingga Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta (kemudian juga ada Mangkunegaran sebagai sempalannya) dan Kasultanan Ngayogyakarta&#8211; pada perkembangan (terutama secara kuantitas) Islam di Jawa bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan.</p>
<p>Namun, mungkin benar juga kata PAT bahwa salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantikan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.</p>
<p>Sang Sultan Jogja pun pernah berkata, sebenarnya mitos-mitos itu hanya untuk mempertahankan kekuasaan, bahwa raja-raja Mataram (yang tidak ada hubungan darah/ keluarga dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya) mendapat restu dari penguasa alam (yang disimbolkan dengan laut kidul &amp; merapi, juga lawu), agar masyarakat awam memberikan dukungan. Restu penguasa plus ketiadaan hubungan darah ini pun digunakan untuk mencegah keturunan dari kerajaan-kerajaan sebelumnya bila hendak menuntut hak tahta.<span id="more-6"></span></p>
<p><strong>Mitos yang Begitu Tua</strong><br />
Mitos laut kidul ini sebenarnya bukan orisinil ide mataram, sejak jaman Galuh di pasundan. Dinasti-dinasti pembangun candi2 di Jawa Tengah &#8211;i.e. Borobudur, Prambanan, Dieng, etc&#8211;, memiliki hubungan keluarga &#8211;dari pernikahan&#8211; dengan kerajaan-kerajaan di pasundan. Diansti ini kemudian musna dan masyarakatnya eksodus ke Jawa Timur, dan oleh Empu Sindok dibentuklah kerajaan baru dengan Airlangga sebagai salah satu penerusnya. Pusaka2 Mataram kuna konon masih ada pada jaman Airlangga. Kemudian jaman berganti dan muncullah Kahuripan, Kediri (dan Jenggala), Singasari, dan Majapahit.</p>
<p>Kesemua kerajaan ini memiliki jalur hubungan keluarga, termasuk pendiri Demak pun anak Brawijaya II, raja Majapahit terahir. Demak dengan Cirebon dan Banten juga memiliki hubungan keluarga. Jaka Tingkir sebagai pendiri Pajang pun merupakan menantu raja Demak, dan ayahnya pun juga keturunan Brawijaya.</p>
<p>Nah, dari alur keluarga ini, mitos laut kidul sudah begitu tuanya. Bahkan penyebarannya demikian luas, bahkan di Nusa Tenggara dan Maluku dikenal juga mitos yang senada, yang mungkin terbawa ketika Sriwijaya (yang memiliki hubungan keluarga yang erat dengan Mataram Kuna) dan Majapahit melakukan ekspansi.</p>
<p>Itu sekedar kekagumanku saja, kok bisa-bisanya cerita setua itu terus-menerus dipertahankan.</p>
<p><strong>Penguasa yang Mampu dan yang Tidak Mampu</strong><br />
Nah, raja-raja Jawa (berlabel) Islam ini memang yang memberi fasilitas bagi perkembangan Islam di tanah Jawa. Namun, tidak semata-mata peran kerajaan saja yang terlibat. Efort zonder kekuasaan pun bisa sukses, misalkan daerah Pengging (Boyolali) yang dimakmurkan oleh Kebo Kananga ayah Jaka Tingkir yang justru menghindar dari kekuasaan, juga berbagai pondok pesantren tua, misalkan di (kalau tidak salah) kebumen yang lebih tua dari kebumen sendiri, yang jauh dari hiruk pikuk kekuasaan.</p>
<p>Penguasa pun tidak selamanya mendukung. Sultan Agung memang OK, tetapi ada keturunannya yang justru menyembelih banyak kiayi. Keturunannya pun ada yang mati dalam pelarian dikejar-kejar rakyatnya. Penguasa ada yang baik ada yang buruk. Sultan Agung dipandang memiliki keluasan ilmu, hingga Islam makmur di jamannya. Adanya penanggalan Jawa-Islam adalah pada jamannya, yang menggabungkan penanggalan Saka (berbasis matahari) dengan Hijriyah (yang qomariayah), dengan angka tahun yang tetap meneruskan tahun Saka (terakhir yang asli) dan tanggal serta bulan yang mengadopsi peredaran bulan yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat, misalkan untuk penentuan masa-masa dalam bertani. Namun ada juga penguasa-penguasa bodoh yang tidak memahami &#8220;ilmu&#8221; dari peninggalan wali sanga dan leluhurnya, malah terjebak di klenik dan tahayul.</p>
<p>Yah, ini mencoba tinjauan dari sisi sejarah, bahwa ada ilmu yang telah dilupakan dan yang melupakan menjadi tersesat</p>
<p><a title="Ilmu &amp; Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)" href="http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/">Bersambung</a>.<br />
p.s. sumber data: dari berbagai tulisan di internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
