Archive for the 'Sosio-Kultur' Category

Aug 08 2012

Posted by under Sosio-Kultur

Kedung Ombo, Catatan Sebagai Perjuangan Melawan Lupa (1): Kronologi Sengketa Kedung Ombo

kado kedung omboBerikut ini adalah kutipan dari buku “Dua Kado Hakim Agung buat Kedung Ombo: Tinjauan Putusan-putusan Mahkamah Agung Tentang Kedung Ombo”, oleh Abdul Hakim G. Nusantara dan Budiman Tanuredjo, terbitan Elsam, cetakan pertama, Februari 1997, berupa kronologi sengketa Kedung Ombo. Sekarang sudah lebih dari 20 tahun permasalahan seputar Waduk Kedung Ombo , dan masih belum selesai. Ada beberapa perkembangan, tapi biarlah catatan berikut ini mengambil dasar dari buku tersebut saja, yang merekam hingga akhir 1994.

Ada beberapa alasan ELSAM menerbitkan buku tersebut. Pertama untuk menyebarkan informasi dan pengalaman mengenai proses putusan MA (dipimpin oleh Asikin, beberapa hari sebelum pensiun) mengenai pengakuan hak-hak warga Kedung Ombo atas tanah dan ganti rugi atas kepemilikan itu, bahka memutuskan pemerintah harus memberikan ganti rugi immaterial kepada warga yang telah dirugikan. Sekaligus putusan PK MA berikutnya (ketika Purwoto menjadi Ketua MA, beberapa hari menjelang dia pensiun) yang menganulir seluruh putusan MA yang pertama (pimpinan Asikin). ELSAM berharap ini menarik perhatian dan pelajaran mengenai wibawa dan kepastian hukum di Indnesia. Kedua, dua keputusan MA belum menyelesaikan masalah yang ada, warga tetap berikhtiar mendapatkan hak-haknya, meskipun dengan cara yang sangat memprihatinkan. Rasa keadilan dan pembelaan pada warga yag papa dari keputusan yang pertama langsung sirna oleh keputusan kedua yang sekaligus menginformasikan menegani praktik hukum di tingkat MA. Ketiga, buku tersebut sebagai catatan sejarah bagi kita yang terdokumentasi untuk senantiasa mengingatkan kita. Keempat, buku ini memperkaya pengetahuan dan wawasan mengenai MA dalam menghadapi gugatan-gugatan masyarakat yang jadi korban pembangunan.

Continue Reading »

1 Comment »

Mar 22 2010

Posted by under Horok,ngGedebus,Sosio-Kultur

Sambel Tumpang, Sambel Lethok

Foto sambel tumpang hasil ngembat dari: http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/

Sehabis berkelana di blog seorang teman, Wibisono, dan membaca tulisan dia mengenai sambel tumpang, jadi tertarik untuk berkomentar. Komentar saja, bukan tulisan tersendiri.

Selama ini aku pikir sambel tumpang alias sambel lethok tuh budaya Merapi-Merbabu, jebulaknya di sragen juga terkenal luas to…

Selama ini aku punya teori, bahwa di daerah Klaten-Boyolali-Salatiga, sambel tumpang sangat akrab, tapi ketika berjalan ke arah timur, Boyolali timur, Sala, dan seterusnya, semakin tidak dikenal (kurang penggemar), hingga terus ke timur ke Nganjuk dan terutama Kediri sambel tumpang sangat disuka di sana.

Mengapa sambel tumpang ada di Kediri dan sekitarnya, kemudian melompat tahu-tahu nongol di Merapi-Merbabu, jangan-jangan terkait dengan perjalanan penyebaran budaya jaman dahulu, jaman-jaman kerajaan kuna. Jangan lupa bahwa dikenal juga ada “kebudayaan merbabu”. Aku jadi curiga, jangan-jangan sambel tumpang muncul di jaman kebudayaan itu.
Continue Reading »

23 Comments »

Mar 01 2007

Posted by under ngGedebus,Sosio-Kultur

Kejawen (Bagian Awal)

Kejawen, pembentukan katanya berasal dari kata Jawi (artinya adalah Jawa, tetapi dalam tingkat bahasa yang halus/ tinggi) diimbuhi ke-an, menjadi kejawian (seperti pembentukan kata “kasepuhan“). Kata kejawian ini, dengan keluwesan “lidah orang Jawa”, meluruh menjadi kejawen .

Kejawian atau kejawen memiliki arti yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawi atau Jawa –dalam hal ini orang Jawa–, dalam segala sendi kehidupan. Continue Reading »

4 Comments »