<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OdyDasa &#187; ngGedebus</title>
	<atom:link href="http://blog.odydasa.web.id/category/nggedebus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.odydasa.web.id</link>
	<description>berbaring, tertidur, bertelur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Jun 2011 05:48:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Sambel Tumpang, Sambel Lethok</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 11:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Horok]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ampel]]></category>
		<category><![CDATA[boyolali]]></category>
		<category><![CDATA[bubur tumpang]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[KUD boyolali]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Mbok Nah Ampel]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Makan Elang Sari]]></category>
		<category><![CDATA[sambel lethok]]></category>
		<category><![CDATA[sambel tumpang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Sehabis berkelana di blog seorang teman, Wibisono, dan membaca tulisan dia mengenai sambel tumpang, jadi tertarik untuk berkomentar. Komentar saja, bukan tulisan tersendiri. Selama ini aku pikir sambel tumpang alias sambel lethok tuh budaya Merapi-Merbabu, jebulaknya di sragen juga terkenal luas to&#8230; Selama ini aku punya teori, bahwa di daerah Klaten-Boyolali-Salatiga, sambel tumpang sangat akrab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_111" class="wp-caption alignleft" style="width: 220px"><a href="http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/"><img class="size-full wp-image-111" title="Sambel Tumpang" src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2010/03/25122007221-1.jpg" alt="" width="210" height="158" /></a><p class="wp-caption-text">Foto sambel tumpang hasil ngembat dari: http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/</p></div>
<p>Sehabis berkelana di blog seorang teman, Wibisono, dan membaca tulisan dia mengenai sambel <a href="http://aguswibisono.com/2010/nasi-sambal-tumpang/ ">tumpang</a>, jadi tertarik untuk berkomentar. Komentar saja, bukan tulisan tersendiri.</p>
<p>Selama ini aku pikir sambel tumpang alias sambel lethok tuh budaya Merapi-Merbabu, <em>jebulaknya</em> di sragen juga terkenal luas to&#8230;</p>
<p>Selama ini aku punya teori, bahwa di daerah Klaten-Boyolali-Salatiga, sambel tumpang sangat akrab, tapi ketika berjalan ke arah timur, Boyolali timur, Sala, dan seterusnya, semakin tidak dikenal (kurang penggemar), hingga terus ke timur ke Nganjuk dan terutama Kediri sambel tumpang sangat disuka di sana.</p>
<p>Mengapa sambel tumpang ada di Kediri dan sekitarnya, kemudian melompat tahu-tahu nongol di Merapi-Merbabu, jangan-jangan terkait dengan perjalanan penyebaran budaya jaman dahulu, jaman-jaman kerajaan kuna. Jangan lupa bahwa dikenal juga ada &#8220;kebudayaan merbabu&#8221;. Aku jadi curiga, jangan-jangan sambel tumpang muncul di jaman kebudayaan itu.<br />
<span id="more-110"></span><br />
Di Boyolali kebanyakan orang suka jenis sambel tumpang yang kental berwarna coklat mantap, dan semakin ke utara ke Salatiga semakin encer dan berwarna pudar dan kemerah-merahan. Sepertinya tergantung pada jenis tempe <em>bosok</em> yang digunakan. Kekentalan juga bisa diperoleh bagi mereka yg suka menggunakan santan.</p>
<p>Pedes? Wah, ada warung-warung tradisional (maksudnya sudah jualan sejak jaman dulu) menyediakan yang super pedas, tapi ada juga yang biasa yang kira-kira anak kecil suka dan bisa mentolerir.</p>
<p>Bisa ditemui di sembarang tempat, tapi sambel tumpang favoritku adalah di seberang KUD Boyolali Kota, perempatan jalan bis dari terminal kira-kira 400 meter. Dengan Rp 1.500,- sudah bisa memperoleh sambel tumpang yang dibungkus dan siap santap. Di tempat itu setiap pagi hingga siang selalu ramai, apalagi di hari libur menjadi jujugan para pengendara sepeda yg khusus mampir ke situ, bergantian dengan hari kerja saat &#8220;customer&#8221;-nya didominasi oleh pegawa-pegawai (negeri) yang biasa <em>njajan</em> sarapan kedua sekitar jam 9-10 pagi.</p>
<p>Yang enak juga adalah &#8220;aliran&#8221; Ampel (nama kecamatan Boyolali ke arah Salatiga), di sana ada Mbok Nah, dan yg paling mantap (termasuk harganya) adalah di Rumah Makan Elang Sari, sambel lethok selera restoran. Tapi tetep ada di sembarang tempat, mungkin tiap kampung ada penjualnya, paling tidak di lingkup Boyolali Kota dan sekitarnya.</p>
<p>Tren &#8220;kuliner malam&#8221; juga merambah menu Sambel Tumpang, bahkan dg judul &#8220;Bubur Tumpang&#8221; banyak bermunculan.</p>
<p>Nasi, dengan sayur rebus (bayam, kecambah, pepaya muda, kubis), diberi sambel tumpang di atasnya menumpangi sayuran, mungkin dari situlah muncul sebutan sambel tumpang. Ada juga yang tidak suka pakai sayuran, <em>gur sambele thok</em>, maka muncullah nama sambe lethok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2010/03/22/sambel-tumpang-sambel-lethok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CyberLecture menggunakan Claroline</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/cyberlecture-menggunakan-claroline/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/cyberlecture-menggunakan-claroline/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 13:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[claroline]]></category>
		<category><![CDATA[cyber lecture]]></category>
		<category><![CDATA[kampus online]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah online]]></category>
		<category><![CDATA[mata kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[uii]]></category>
		<category><![CDATA[universitas islam indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/cyberlecture-menggunakan-claroline/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika ada jodoh bisa membantu teman berdiri di muka mahasiswa-mahasiswa suatu perguruan tinggi (di depan siswa dengan segala ke-MAHA-annya, di tempat pendidikan yang levelnya tinggi), nampaknya kemalasanku untuk selalu ontime dalam menyediakan materi mengajar cukup mengganggu. Hand-out yang belum jadi, SAP yang tertunda-tunda, harus dicarikan jalan bagaimana agar bisa diterima oleh para siswa-bermaha tersebut. Tradisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/lecture_claroline.png" alt="lecture claroline" hspace="20" vspace="20" width="225" height="252" align="left" /></p>
<p>Ketika ada jodoh bisa membantu teman berdiri di muka mahasiswa-mahasiswa suatu perguruan tinggi (di depan siswa dengan segala ke-MAHA-annya, di tempat pendidikan yang levelnya tinggi), nampaknya kemalasanku untuk selalu <em>ontime</em> dalam menyediakan materi mengajar cukup mengganggu.</p>
<p>Hand-out yang belum jadi, SAP yang tertunda-tunda, harus dicarikan jalan bagaimana agar bisa diterima oleh para siswa-bermaha tersebut.</p>
<p>Tradisi pertukaran data melalui internet memang sangat membantu. Namun, jika setiap saat harus mendistribusikannya melalui email, tentu bakal merepotkan. Menyiapkan file-nya saja sudah ketahuan malasnya, maka dapat dibayangkan jika disuruh tertib waktu dalam berkirim materi lewat email akan seberapa malasnya.<span id="more-98"></span></p>
<p>Menyimpan file di repositori online di internet, tentu jadi jawaban. Kapanpun ada yang butuh, tidak perlu mengkontakku, tinggal cari di daftar koleksi yang aku punya. Hanya saja, sistem yang ada kurang aku sukai, tidak felksibel terhadap kebutuhanku.</p>
<p>Akhirnya, dengan menyediakan space pada hosting yang aku sewa, aku pasang sistem yang mengadopsi sistem kelas secara online. Di kampus tempat aku diberi kesempatan untuk mengajar sebenarnya memiliki sistem yang cocok untuk itu (<a href="http://klasiber.uii.ac.id/">http://klasiber.uii.ac.id/</a>). Sayangnya, sebagai tenaga pengajar lepas aku belum memiliki kesempatan untuk menikmati fasilitas itu. Setelah tanya ke sana ke mari dengan Om Gugel, nampaknya mbak Claroline (<a href="http://www.claroline.net/">http://www.claroline.net/</a>) menjadi tambatan pilihanku.</p>
<p>Simak saja di <a href="http://lecture.odydasa.web.id/">http://lecture.odydasa.web.id/</a>. Walaupun baru 1 mata kuliah yang bisa aku sediakan di situ, itu pun sama sekali jauh dari kata cukup untuk bisa disebut kelas online, karena miskinnya materi yang aku sediakan. Namun, sepertinya aplikasi mbak Claroline cukup menjanjikan, karena fasilitas yang disediakan mencukupi, mulai dari outline mata kuliah (course description), agenda/ jadwal, pengumuman, dokumen untuk menyimpan materi-materi, pengerjaan soal secara online, forum diskusi, manajemen peserta (pendaftaran, grup, users), chat, dan ada juga Wiki di dalamnya untuk membuat ensiklopedia.</p>
<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/11/lecture_layout.png" alt="lecture layout" hspace="20" vspace="20" width="450" height="310" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/11/09/cyberlecture-menggunakan-claroline/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telkom: Orientasi Berganti, Komitmen Pun Dikemanakan?</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 16:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[BisTel]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[commited to you]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>
		<category><![CDATA[pelanggan]]></category>
		<category><![CDATA[telkom]]></category>
		<category><![CDATA[the world in your hand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa minggu terakhir beredar logo baru Telkom dan komentar-komentar mengenainya, malam ini baru aku benar-benar memperhatikan bagaimana logo baru itu. Kesan pertama: bagus. Bagus, dalam arti Telkom mau mengubah diri dengan suatu citra yang lebih cerah, dengan tetap mendominankan warna biru sebagai ciri khas selama ini. Berani meninggalkan logo lama yang tidak cocok dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/kantor_telkom.jpg" alt="kantor telkom" hspace="10" vspace="10" width="200" height="123" align="left" />Setelah beberapa minggu terakhir beredar logo baru Telkom dan komentar-komentar mengenainya, malam ini baru aku benar-benar memperhatikan bagaimana logo baru itu.</p>
<p>Kesan pertama: bagus. Bagus, dalam arti Telkom mau mengubah diri dengan suatu citra yang lebih cerah, dengan tetap mendominankan warna biru sebagai ciri khas selama ini. Berani meninggalkan logo lama yang tidak cocok dengan suasana (dunia) yang lebih cerah dan lebih terbuka. Kesan berikutnya: lucu. Yakin, pertama melihat kok langsung tercetak di otak gambaran mengenai ayam jantan ya? Agak-agak cupu, kata komentator di Kaskus.<span id="more-56"></span></p>
<p>Ada makna filosofi dengan adanya logo baru itu, tentu. Makna yang bagiku pribadi tidak terlalu penting. Walaupun logo yang &#8220;old-school&#8221; lebih punya <em>soul</em>, dan logo yang baru agak kekanak-kanakan dan kurang profesional, berani berubah, itu hal yang penting. Perubahan yang penting sebagai &#8220;<em>charging</em>&#8221; semangat bagi para pegawai BUMN ini.</p>
<p>Bagian yang kukira sebagai <em>jengger</em> alias jambul ayam jantan, ternyata bisa dilihat sebagai tangan melambai, pernyataan selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa depan. Namun, lambaian tangan itu sebenarnya bukanlah arti logo.</p>
<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/telkom_baru.png" alt="telkom baru" hspace="10" vspace="10" width="200" height="107" align="left" /><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/telkom_lama.png" alt="telkom lama" hspace="10" vspace="10" width="120" height="150" align="left" /></p>
<p>Filosofi baru akan berhubungan dengan strategi baru. Efisiensi dan produktivitas merupakan isu yang muncul sejak lama, menjadi <em>world class company</em> tetap jadi impian utama, dan Telkom pun berkepentingan untuk mengakuisisi berbagai perusahaan di luar negeri menjadi bagian dalam <em>holding group</em>-nya. Apalagi ketika perusahaan-perusahaan dari luar negeri telah mencaplok operator ini itu di negeri ini, Telkom jangan sampai ketinggalan dalam perebutan kue.<br />
<strong>The World in Your Hand</strong></p>
<p>Di-<em>softlaunch-</em>kan sudah pada tanggal 16 Oktober 2009, dan malam ini, Jumat tanggal 23 Oktober 2009 pukul 20.30 s.d. 21.30 WIB ada acara <em>live</em> TransTV untuk peluncuran yang sebenarnya, bersamaan dengan Indigo Awards, sekaligus sebagai penanda ulang tahun Telkom. Saya tidak menonton.</p>
<p>Perubahan ini menjelaskan visi baru Telkom di bidang telekomunikasi, informasi, media, <em>edutainment</em>. Dengan <em>positioning</em> berupa &#8220;<em>Life Confident</em>&#8220;, Telkom mengusung <em>tagline</em> yang juga baru, yaitu &#8220;<em>The World Is In Your Hand</em>&#8220;. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, <em>tagline</em> baru, <em>brand positioning</em> &#8220;<em>Life Confident</em>&#8220;. Diharapkan, pesan &#8220;<em>Life Confident</em>&#8221; sendiri langsung membangkitkan optimisme.</p>
<p>Jadi, sekarang tidak ada lagi slogan &#8220;<em>Comitted 2 You</em>&#8220;.</p>
<p>Nah, siap-siap saja, komitmen Telkom tidak lagi untuk kita, para pelanggannya.</p>
<p><em>Quo vadis,</em> mau dibawa kemana Telkom?</p>
<p>┬á</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Minggu kemarin, ada petugas yang menangani PSB (pasang baru) telepon di rumah di samping rumahku, selisih satu rumah. Petugas tersebut tanpa <em>unggah ungguh</em> dan kasar dalam menjalankan tugasnya. Jadilah dia sebagai bahan <em>gerundelan</em> ibu-ibu di sekitarku. Ditambah lagi, gara-gara dia yang main sogok kabel di sana-sini, matilah jalur telepon di rumah, dan celakalah internetku (Heran, telepon dites tidak ada nada panggil, dilakukan <em>incoming call</em> ada nada panggil, tetapi Speedy tetap nyambung walaupun dengan <em>rate</em> sebesar 1/10 dari normalnya. Untung kenal dengan Pak Bos Telkom di kotaku, aku memberikan komplain dengan malu-malu (gak enak harus <em>ngrusuhi</em>, dan karena tahu itu bukan pegawai Telkom melainkan tenaga lepas), jadilah jalur teleponku berfungsi normal kembali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejawen (Bagian Awal)</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/03/01/kejawen-bagian-awal/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/03/01/kejawen-bagian-awal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 11:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/03/01/kejawen-bagian-awal/</guid>
		<description><![CDATA[Kejawen, pembentukan katanya berasal dari kata Jawi (artinya adalah Jawa, tetapi dalam tingkat bahasa yang halus/ tinggi) diimbuhi ke-an, menjadi kejawian (seperti pembentukan kata &#8220;kasepuhan&#8220;). Kata kejawian ini, dengan keluwesan &#8220;lidah orang Jawa&#8221;, meluruh menjadi kejawen . Kejawian atau kejawen memiliki arti yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawi atau Jawa &#8211;dalam hal ini orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kejawen</em>, pembentukan katanya berasal dari kata Jawi (artinya adalah Jawa, tetapi dalam tingkat bahasa yang halus/ tinggi) diimbuhi ke-an, menjadi kejawian (seperti pembentukan kata &#8220;<em>kasepuhan</em>&#8220;). Kata kejawian ini, dengan keluwesan &#8220;lidah orang Jawa&#8221;, meluruh menjadi <em>kejawen</em> .</p>
<p><em>Kejawian</em> atau <em>kejawen</em> memiliki arti yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawi atau Jawa &#8211;dalam hal ini orang Jawa&#8211;, dalam segala sendi kehidupan.<span id="more-9"></span></p>
<p><strong><em>Kejawen</em> = Kultur Jawa</strong><br />
<em>Kejawen</em> memiliki kedekatan arti dengan kultur Jawa, yang berarti juga melingkupi bagaimana seorang Jawa itu bertingkah polah menjalani hidup.<br />
Karena berupa kultur, <em>kejawen</em> juga melingkupi pola pikir serta sikap dan pola kehidupan. Sehingga orang Jawa yang memiliki pola pikir serta sikap dan pola kehidupan yang tidak sesuai dengan kultur Jawa akan dianggap sebagai orang yang tidak Jawa (tidak &#8220;<em>njawani</em>&#8220;).</p>
<p>Pola-pola seperti <em>andhap asor</em> (santun), <em>tepa slira</em> (tenggang rasa), menghormati orang lain, guyub dan suka menolong, bersahaja, hidup dalam harmoni, serta mendekat dengan alam termasuk di dalamnya. Orang Jawa yang egois, kasar/ arogan, dan lupa dengan asal usulnya akan dianggap sebagai orang yang tidak &#8220;<em>njawani</em>&#8220;.</p>
<p>Pembentukan diri agar memiliki pola pikir serta sikap kehidupan sebagai orang Jawa, dilalui dengan berbagai pola kehidupan tertentu, misalkan lelaku prihatin (untuk menempa diri agar kuat dan peka) dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong><em>Kejawen</em>, Ritual, Klenik, dan Penyelewengan-penyelewengan itu</strong><br />
Namun, pola hidup ini tidak identik dengan ritual. Orang yang ingin hidup bersahaja hanya perlu menerapkan kebersahajaan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak perlu dilalui dengan ritual tertentu yang berpeluang menjadi topeng kepalsuan. Ritual berbagi rejeki untuk saling membantu, hanya akan menjadi kepalsuan bila dalam kesehariannya dikenal sebagai orang yang pelit dan kikir.</p>
<p>Justru ritual-ritual yang palsu seperti ini pada dasarnya bukan asli Jawa, melainkan bawaan dari budaya asing melalui asimilasi budaya Hindu, Budha, dan Islam. Bahkan budaya Kristen pun ikut-ikutan berasimilasikan dan mengaku sebagai budaya Jawa, dan dapat dilihat di berbagai wilayah di sekitar Magelang atau Kediri.</p>
<p>Ritual-ritual hasil asimilasi ini yang seringkali tidak dipahami &#8220;filsafat dan ilmu&#8221;-nya oleh orang Jawa, sehingga terjadilah ritual-ritual tanpa ilmu yang akhirnya menjadi klenik. (Tentang klenik, ada di <a title="Ilmu &amp; Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)" href="http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/">posting sebelumnya</a>)</p>
<p>Tanpa landasan pemahaman ilmu dan filsafat yang melatarbelakanginya, pehamanan akan bergeser. Jika ingin menempa diri agar kuat dan peka, maka pemahaman atas &#8220;kuat&#8221; ini menjadi bermacam-macam. Lelaku prihatin yang awalnya agar menjadi kuat dalam menjalani hidup (kuat mental, kuat jiwa, kuat spiritual, kuat keyakinan, kuat dalam niat dan kemauan, sembada, kuat dalam pengendalian diri, dan seterusnya), termasuk kuat dalam arti fisik (kekuatan olah ragawi dan kekuatan hasil olah kanuragan), kemudian bergeser hanya satu sisi saja, misalkan hanya dipahami kuat dalam arti olah kanuragan. Akhirnya, proses lelaku yang dijalani pun menjadi berbeda niatnya, dan lahirlah klenik.</p>
<p>Ketika hidup bersama alam, ditemukan adanya keseimbangan dan kehamonisan, dan ini yang kemudian menjadi landasan dalam tatanan kehidupan, hidup yang harmonis. Dalam usaha untuk memahami kehidupan, masyarakat Jawa menemukan bahwa kehidupan itu tidak lepas dari hidup bermasyarakat. Sehingga, penghormatan atas hadirnya individu lain, kesantunan, dan hidup saling membutuhkan adalah syarat untuk harmoni dalam masyarakat. Sikap hidup yang sesungguhnya menggambarkan adanya sikap egaliter dalam kehidupan masyarakat Jawa.</p>
<p>Namun, ada beberapa hal yang kemudian dipahami secara salah. Hamonis kemudian dipahami secara salah menjadi antikonflik. Menghormati orang lain dipahami secara salah menjadi rendah diri yang berlebihan dan penjilatan kepada yang lebih berkuasa atau berharta.</p>
<p>Peka berarti harus memahami segala sesuatu yang tidak biasa, agar kemudian bisa mawas diri. Ketika ada suatu kesalahan yang dilakukan, dan orang-orang di sekitarnya justru diam, harus bisa dipahami bahwa sikap diam itu adalah cara agar pelaku kesalahan menjadi peka atas apa yang telah dilakukannya. Mendiamkan ini adalah upaya untuk memperkecil konflik. Jika tidak peka, maka hal itu dianggap sebagai hal yang menyakitkan bagi orang lain. Semacam &#8220;kebangetan banget, sih. Kok tidak sadar juga&#8221;. Untuk mereduksi konflik, sering kali orang Jawa bersikap: &#8220;ngalah, ngalih, ngamuk&#8221;. Pertama kali adalah mengalah, mendiamkan agar tidak terjadi konflik yang tidak perlu. Jika masih belum sadar, maka &#8220;ngalih&#8221;, menghindari, agar emosi tidak merusak suasana. Kemudian, jika masih belum sadar, langkah tegas diperlukan untuk itu, walau tidak harus berari &#8220;mengamuk&#8221;.</p>
<p>Pemahaman yang salah terhadap hal ini juga sering terjadi, dan dikenalah orang Jawa secara salah sebagai orang yang pendiam, tetapi pendendam. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa dibalik sikap yang rendah hati dan menghormati, tersimpan pula sifat kasar dan ganas. (Mungkin pada dasarnya orang Jawa memang kasar dan ganas, dan oleh sebab itu ada <em>kejawen</em> untuk meredam dan mengarahkan)</p>
<p>Dalam mawas diri dan pembentukan kepekaan diri, dikenal ada istilah &#8220;guru sejati&#8221;. Guru adalah yang dianggap mampu mendidik dan mengarahkan, dan guru yang harus bisa mendidik dan mengarahkan adalah diri pribadi. Guru sejati menjadi semacam &#8220;alter ego&#8221; yang mengawasi dan melakukan pengarahan terhadap &#8220;alter ego&#8221; yang lain. Dalam klenik, guru sejati hanya dipahami sebagai pembentukan &#8220;sosok lain&#8221;, yang kemudian bersinggungan dengan &#8220;raga sukma&#8221;, maupun kemunculan &#8220;kembaran&#8221; di tempat lain pada saat bersamaan.</p>
<p>Kepekaan diasah dengan usaha untuk bisa ikut merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh yang lain. Kebersahajaan (meninggalkan kemewahan) dan lelaku prihatin (merasakan lapar dan kesusahan hidup), merupaan upaya untuk itu. Namun, kemudian muncul ritual-ritual, seperti bertapa dan berbagai jenis puasa (ngebleng, pati geni, mutih, ngrowot, dan seterusnya), yang jelas-jelas merupakan asimilasi dari budaya asing. Karena sebenarnya lelaku itu adalah keseharian, bukan ritual. Ritual yang dilakukan secara rajin, tetapi dalam keseharian masih bergelimang kemewahan dan tidak peduli akan kesusahan hidup yang dialami yang lain, hanyalah berupa topeng kepalsuan, dan tidak akan mengupayakan kepekaan.</p>
<p>Kepekaan diasah pula dengan mendekatkan diri dengan alam, agar bisa menangkap tanda-tanda yang diberikan oleh alam. Salah satu hasil mengasah kepekaan ini adalah &#8220;ilmu <em>titen</em>&#8220;, yang &#8220;<em>niteni</em>&#8220;, meneliti, mencermati berbagai tanda-tanda. Ilmu <em>titen</em> ini akan menjadi klenik, jika hanya didasarkan atas hitung-hitungan saja, sedangkan tanda-tanda alam tidak lagi dicermati.</p>
<p>Hal yang praktis dalam &#8220;titen&#8221; ini adalah, orang Jawa biasanya memetakan posisi dalam arah mata angin. Sehingga wajar jika menjelaskan posisi dalam arah mata angin (&#8220;<em>lor</em>&#8220;/ utara, &#8220;<em>kidul</em>&#8220;/ selatan, &#8220;<em>wetan</em>&#8220;/ timur, dan &#8220;<em>kulon</em>&#8220;/ barat) dan bukan dalam arah kiri atau kanan. Misalkan untuk lokasi rumah, maka bisa dijelaskan menjadi: dari perempatan terminal, ke utara, kemududian ada belokan, ke barat sedikit terus ke utara lagi. Sayangnya, seringkali jika tidak paham arah mata angin, maka akan merasa bingung dan disorientasi lokasi.</p>
<p>&#8220;<em>Titen</em>&#8221; yang lain, adalah memahami waktu tanpa bantuan jam. Jika pada siang hari hal ini dapat dilakukan dengan bantuan matahari, maka di saat malam hari pemahaman waktu dilakukan dengan mencermati kondisi alam dan isinya, misalkan perilaku binatang, perilaku orang-orang, perubahan suhu, angin, atau cuaca. Akan sangat kelihatan ketika berada di wilayah yang jauh dari keramaian. Jam 8 malam biasanya bayi/ anak kecil sudah tidur, jam 10 malam angin mulai reda (bila ada obor penerangan, api dan asap mulai lurus ke atas), jam 2 pagi suhu udara mulai turun secara signifikan, dan seterusnya.</p>
<p>Untuk urusan bercocok tanam, karena sangat ditentukan oleh musim, perubahan-perubahan kondisi alam menjadi hal yang dicermati, misalkan untuk memperkirakan kedatangan musim hujan, musim angin digunakan sebagai tanda, dan jika musim angin sudah mulai reda, maka musim hujan akan segera tiba. Musim kemarau biasanya ditandai dengan perilaku hewan &#8220;<em>gareng pung</em>&#8220;, sebagaimana orang Jepang menandai musim semi berdasar perilaku cenggeret, hewan yang sejenis. Pendanaan-penandaan musim ini kemudian diwujudkan dalam sisem kalendar, dan Jawa adalah salah satu dari sedikit suku bangsa di dunia yang memiliki sistem kalendar sendiri (walau pada perkembangannya mengalami asimilasi dengan budaya lain), selain bahasa dan tulisan tersendiri. Namun, jika hanya menyandarkan diri pada perhitungan-perhitungan, dan tidak lagi mencermati tanda-tanda alam, maka terlahirlah lagi klenik, ritual-ritual yang meninggalkan filosofi dan ilmu yang melandasinya.</p>
<p>Mendekatkan diri dengan alam adalah upaya untuk mengasah kepekaan juga, agar mampu hidup harmonis dengan alam dan untuk keperluan-keperluan praktis, misalkan untuk orientasi lokasi, orientasi waktu, dan keperluan pertanian.</p>
<p><strong><em>Kejawen</em> dan Perkembangan Jaman: Asimilasi, Egoisme, atau Politik?</strong><br />
Dalam banyak sisi, <em>kejawen</em> selalu berkembang &amp; menyesuaikan diri, mulai dari era prapengaruh budaya asing, era kedatangan suku bangsa asing yang membawa berbagai budaya dan teknologi (budaya Hindu &amp; Budha, Cina, Timur Tengah dan Asia Kecil, Islam, serta bangsa barat dan Kristen), hingga pengaruh budaya global saat ini. Pun, kultur tidak hanya sebatas pola pikir dan tingkah laku, melainkan juga produk dari kultur itu sendiri, misalkan bahasa, tulisan, sastera, dan ilmu-ilmu lainnya. Konon, orang Jawa tidak akan mengenal berbagai peralatan dan teknologi bertani (bahkan bajak), jika tidak ada pengaruh dari Cina (<a title="Kechinaan dalam Budaya Jawa" href="http://kejawen.suaramerdeka.com/index.php?id=135">http://kejawen.suaramerdeka.com/index.php?id=135</a>).</p>
<p>Nah, jika sedari dahulu <em>kejawen</em> terasimilasi, tetapi tetap berciri khas Jawa, budaya Hindu tapi Jawa, Budha tapi Jawa, orang Cina tapi Jawa, Islam tapi Jawa, Kristen tapi Jawa. (Catatan mengenai Islam tapi Jawa dan bukan Arab, bisa dilihat <a title="Ilmu &amp; Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)" href="http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/">di sini</a>). Sehingga, bukan tidak mungkin pada era ini <em>kejawen</em> akan bisa bertahan seperti sebelumnya: modern tapi Jawa.</p>
<p>Walau perkembangannya, tidak hanya budaya asing yang berpengaruh, melainkan juga kepentingan-kepentingan politik, mulai dari raja-raja Jawa (yang negatif: ekseklusivitas, rasis, nonegaliter; yang positif: lahirnya ilmu-ilmu baru <em>kejawen</em> di berbagai bidang), penjajah (yang suka memutar balik fakta sejarah, karena takut budaya lokal jika nantinya maju), hingga yang sangat sangat khas dari seorang Suharto (sebagaimana penjajah, dan suka senyum, yang dapat diartikan sebagaimana diamnya orang Jawa: <em>kayak gitu kok ndak nyadar-nyadar, to</em>). Mungkin, dari seorang Suharto dunia mengenal <em>kejawen</em> , tetapi juga melalui seorang Suharto dunia tidak mengenal apa sesungguhnya <em>kejawen</em> .</p>
<p><em>Kejawen</em> adalah cara untuk berpola pikir, bersikap, dan berpola hidup sebagaimana seharusnya orang Jawa, dan tidak sama dengan klenik. Memahami <em>kejawen</em> tanpa memahami kehidupan manusia dan dan memahami alam akan menjadi klenik.</p>
<p>Bacaan lebih lanjut tentang <em>kejawen</em>, serta pola pikir &amp; sikap orang Jawa: <a href="http://kejawen.suaramerdeka.com/">http://<em>kejawen</em>.suaramerdeka.com/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/03/01/kejawen-bagian-awal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (3)</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 12:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/</guid>
		<description><![CDATA[Budaya Terbuka v.s. Budaya Gedibal: Kejawen Perlu Diluruskan Kembali Salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantukan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul. Kepicikan dan kejumudan yang didasari oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Budaya Terbuka v.s. Budaya <em>Gedibal</em>: Kejawen Perlu Diluruskan Kembali<br />
</strong>Salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantukan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.</p>
<p>Kepicikan dan kejumudan yang didasari oleh sikap ambigu; menerima, tetapi menolak dominasi asing, menerima pengaruh asing, tetapi pilih-pilih, menerima pengaruh, tetapi dicampur dan direkayasa sesuai kehendak.<span id="more-8"></span></p>
<p>Kemudian, untuk melawan keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin sebagai khas pekerja dan pedangan, sekaligus untuk mengekalkan kepicikan dan kejumudan, dibuatlah paham: &#8220;<em>dedagang iku asor</em>&#8220;, berdagang itu hina. Efeknya, lahirlah para orang yang lebih rela mengabdi kepada kekuasaan, sebagai pesuruh, sebagai &#8220;<em>gedibal</em>&#8220;, <em>bala sadhukan</em>, orang-orang yang bisa ditendang ke sana ke mari, yang dilengkapi dengan etik kerja malas dan menjilat. Dua kutub yang di dunia kerja saat ini masih terus ada: menjadi buruh (swasta/ negri) atau <em>enterpreuner</em>.</p>
<p>Sedangkan ilmu dan &#8220;<em>lelaku</em>&#8221; untuk malas dan menjilat itu tidaklah serumit dan seberat pada &#8220;<em>lelaku</em>&#8221; untuk rajin dan <em>open-hearted</em>.</p>
<p>Dengan kata lain, ilmu-ilmu warisan leluhur <em>semangkin</em> lama <em>semangkin</em> hilang, <em>semangkin</em> lama tidak ada lagi yang memahami. Yang dipertahankan hanyalah hapalan terhadap label dan prosesi, tetapi tanpa ilmu yang melandasi, yang kemudian semakin diagung-agungkan. Nasib Islam mungkin tak akan jauh sebagaimana nasib gamelan yang sedianya untuk memikat masyarakat agar mau mendekat dan menerima budaya baru, tetapi bukan untuk dimanfaatkan melainkan malah disembah-sembah. Bid&#8217;ah, syirik, klenik, sesat dan menyesatkan.</p>
<p>Syukurlah, belum lama ini ada kabar bahwa UII dan UMS tergerak untuk mengkaji kultur-kultur kraton dalam kaitannya dengan Islam, yang diharapkan dapat membuka kembali ilmu-ilmu yang melandasi berbagai prosesi.</p>
<p>Kesimpulannya:</p>
<p>[] Klenik adalah amalan tanpa ilmu.</p>
<p>[] Sedangkan tradisi2 tua makin lama pemahanan keilmuannya makin hilang, dengan kata lain sering kali menjadi prosesi tanpa pemahaman keilmuan.</p>
<p>[] A=B, C=B, maka C=A</p>
<p>(Sementara) Tamat</p>
<p>p.s. SUmber data: dari berbagai artikel di internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 12:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/</guid>
		<description><![CDATA[Ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat. Kebodohan dan Ketersesatan Jaman dahulu, orang-orang di jaman itu bisa memahami bagaimana pengaruh alam terhadap kondisi manusia. Sehingga muncul &#8220;ilmu&#8221; yang memahami pengaruh perubahan-perubahan alam terhadap kondisi manusia, misalkan posisi bulan &#38; matahari, siang &#38; malam, dll. Salah satu pengaruh perubahan alam ini adalah pengaruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat.</p>
<p><strong>Kebodohan dan Ketersesatan<br />
</strong>Jaman dahulu, orang-orang di jaman itu bisa memahami bagaimana pengaruh alam terhadap kondisi manusia. Sehingga muncul &#8220;ilmu&#8221; yang memahami pengaruh perubahan-perubahan alam terhadap kondisi manusia, misalkan posisi bulan &amp; matahari, siang &amp; malam, dll. Salah satu pengaruh perubahan alam ini adalah pengaruh kondisi gravitasi benda-benda angkasa terhadap emosi manusia, ketika bulan &amp; matahari dekat maka pengaruh gravitasi dari angkasa yang memiliki vektor berlawanan dg gravitasi bumi terhadap manusia sedang puncak-puncaknya.</p>
<p>Sistem kalender di Cina pun lahir karena pemahaman-pemahanan ini, dan digunakan untuk mengetahui kapan seseorang memiliki dukungan pengaruh dari alam yang paling kuat. Saat itu, raja-raja Cina menggunakan kalender agar ketika senggama bisa dalam &#8220;kondisi puncak&#8221;, baik secara lahir batin maupun dalam hal dukungan pengaruh alam (termasuk spiritual, jika sebelumnya telah menjalani &#8220;lelaku&#8221;), sehingga keturunan yang dihasilkan juga prima. Untuk memudahkan perhitungan, maka dalam penanggalan diberikan patokan-patokan dan nama-nama. Namun, ilmu yg mendasari makin lama makin tidak diketahui, dan yang semakin berkembang adalah menghapal patokan &amp; nama, dan meramalkan jika pada saat waktu tertentu, maka kondisinya adalah bla-bla-bla. Lahirlah klenik.<span id="more-7"></span></p>
<p>Jaman dulu, di kawasan Babilonia, astronomi telah dikenal dan berkembang pesat. Perubahan posisi bumi terhadap matahari dapat dilihat dari perubahan posisi rasi bintang. Jika orang-orang jaman itu, seperti halnya orang-orang Cina, memahami bahwa posisi matahari &amp; bulan mempengaruhi emosi seseorang, maka pada berbagai posisi rasi itu pengaruh alam mengalami perbedaan. Ketika astronomi mulai dilupakan pada generasi-generasi berikutnya, dan yang dihapalkan adalah patokan rasi-rasi dan pembawaan orang-orang yang kelahirannya dinaungi rasi-rasi tersebut, maka lahirlah klenik dalam wujud astrologi.</p>
<p><strong>Dari Alat Bantu Berubah Menjadi Sesembahan<br />
</strong>Walisanga mengadopsi budaya lokal agar masyarakat tidak merasa asing dengan &#8220;budaya baru&#8221;, dan lahirlah gamelan, wayang, dan seni-seni yang khas, yang tidak berbeda dengan sebelumnya, tetapi juga tidak sama. Adanya wayang kulit yang bermata satu dan bertangan panjang hingga bawah lutut, dengan mengatasnamakan artistik, tetapi sesunguhnya adalah agar wayang tidak mirip dengan manusia, karena manusia yg normal bermata dua dan bertangan yang panjangnya tidak di bawah lutut. (Entah mengapa malah wayang golek jadi mirip kembali dg manusia)</p>
<p>Gamelan, wayang, dan seni-seni lainya dimanfaatkan untuk membawa masyarakat agar mendekat kepada para wali, sehingga setelah dekat (inklusif) akan mudah untuk diajak kepada Islam. Namun, kemudian penguasa-penguasa generasi berikutnya tidak lagi inklusif, dan menolak untuk menyamakan derajat. Bahkan, sarana-sarana seni tidak lagi digunakan untuk saling mendekatkan diri, melainkan untuk disembah-sembah.</p>
<p><strong>Penyimpangan: dari Mengabaikan dan Melebih-lebihkan atau Politik?<br />
</strong>Kalender jawa mataram peninggalan Sultan Agung pada awalnya digunakan untuk kebutuhan masyarakat, terutama untuk penentuan masa-masa bertani, sekaligus untuk mendekatkan masyarakat dengan budaya Islam (walau agar &#8220;lidah lokal&#8221; bisa mudah mengucapkan, maka nama-nama bulan dan tahun pun kemudian mengalami perubahan). Masyarakat jawa mengenal bulan Pasa sebagai bulan Ramadlan, dan tahu bahwa ada ritual puasa pada saat itu.</p>
<p>Namun, penyimpangan sering berawal dari melebih-lebihkan maupun karena meremehkan. Dianggaplah &#8220;puasa Islam&#8221; itu kurang mantap, tidak seperti ketika orang2 jaman dahulu bertapa, atau paling tidak berpuasa yang lama yang terus menerus (ngebleng), atau berpuasa tetapi berbukanya yang dengan tetap lelaku juhud (misalkan &#8220;puasa mutih&#8221;, berbuka hanya dg makanan pokok tanpa bumbu dan lauk pauk, atau &#8220;puasa ngrowot&#8221; yang berbuka dg makanana yang tidak dimasak, misalkan buah atau umbi).</p>
<p>Pengaruh aliran syi&#8217;ah yang dibawa oleh sebagian wali juga memberikan pengaruh pada perkembangan Islam di Jawa. Pengagungan hari Asyu&#8217;ara membuat masyarakat Jawa demikian memuja dan mengeramatkan bulan Sura. Pengeramatan yg aneh juga, ketika orang awam ditabukan bikin acara di bulan tersebut kecuali kalau mau menanggung resiko celaka, tetapi justru para penguasa (orang keraton) membuat acara (misalkan pernikahan) di bulan itu, karena dipercaya membawa berkah yang besar.</p>
<p><strong>Jawa yang Jawa: Egoisme Orang Jawa dan Kebodohan<br />
</strong>Ketika jaman Demak, raja generasi kedua (Adipati Unus, suka memakai gelar Adipati dan bukan raja, dan menyandingkan pada gelarnya dengan nama Yunus yang merupakan ayahnya, untuk menghormati ayahnya yang merupakan Ulama besar di jamannya) yang beretnik Arab, memimpin penyerangan terhadap Portugis di Malaka. Pati Unus (yang bergelar pangeran Sabrang Lor) yang dibantu oleh orang-orang Melayu (Islam) yang terusir dari dari Malaka, akhirnya gugur bersama anaknya yang sulung dan yang ketiga. Ada desas-desus bahwa kematiannya disebabkan karena ada pihak di Demak yang menginginkan kekuasaan jika kematiannya terjadi. Selain karena perebutan kekuasaan, sentimen kesukuan juga muncul. Orang Jawa tidak rela jika dipertuan oleh orang bukan Jawa. Aneh juga, nyatanya sejak jaman penjajahan hingga sekarang selalu saja ada penguasa yang mengabdi sepenuh hati kepada orang asing.</p>
<p>Nah, kupikir itulah beberapa faktor yang menjerumuskan masyarakat, menerima orang asing tetapi menolak dominasi. Menerima pengaruh asing, tetapi ketika mampu (ketika menjadi penguasa, atau ketika tidak adalagi yang melakukan kontrol, tidak seperti pada jaman walisanga), maka hanya memilih-pilih yang menguntungkan. Ditambah lagi, mencampurnya dengan hasil pemikiran sendiri.</p>
<p>Maka lahirlah Islam Jawa (khas Mataram) yang bukan Arab. Islam tetapi hanya label (santri-priayi-abangan). Islam yang ya Islam ya makan saren (darah dari penyembelihan yang kemudian digoreng, bisa untuk obat tambah darah, katanya), ya Islam ya Ma-lima (main judi, madhat/ teler &#8211;narkoba, kalau jaman dulu biasanya candu&#8211;, minum/ mabuk-mabukan, madon/ main perempuan, dan maling), penguasa yang ya (berlabel) Islam ya menyembelih ulama. Islam tetapi penuh dengan klenik, penuh dengan prosesi tetapi tidak shalat, tidak puasa Ramadan, tidak haji, tidak zakat.</p>
<p><strong>Kejayaan di Jawa v.s di Dunia<br />
</strong>Waktu antara Mataram Islam dengan Mataram Kuna merentang berabad-abad (7/8 s.d. 15/16 ?), tetapi tetap saja terpuruk.</p>
<p>Cobalah suatu ketika membuka M$ Encarta, pada jaman ketika Mataram Kuna tengah gegap gempita dengan pembangunan Borobudur, tariklah garis vertikal, maka akan diketemukan pada jaman yang sama, di Arab sana telah lahir Shahih Bukhori.</p>
<p>Ketika di Jawa, abad demi abad, diisi dengan kejumudan, pencerahan di dunia lain tengah berkembang.</p>
<p><a title="Ilmu &amp; Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (3)" href="http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-3/">Bersambung</a></p>
<p>p.s. Sumber data: dari berbagai artikel di internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 11:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[Sosio-Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/</guid>
		<description><![CDATA[Keterpurukan Masyarakat Jawa Peran kerajaan-kerajaan (berlabel) Islam di Jawa &#8211;sejak Demak, Cirebon, Banten, Pajang, hingga Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta (kemudian juga ada Mangkunegaran sebagai sempalannya) dan Kasultanan Ngayogyakarta&#8211; pada perkembangan (terutama secara kuantitas) Islam di Jawa bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan. Namun, mungkin benar juga kata PAT bahwa salah satu keterpurukan masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Keterpurukan Masyarakat Jawa</strong><br />
Peran kerajaan-kerajaan (berlabel) Islam di Jawa &#8211;sejak Demak, Cirebon, Banten, Pajang, hingga Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta (kemudian juga ada Mangkunegaran sebagai sempalannya) dan Kasultanan Ngayogyakarta&#8211; pada perkembangan (terutama secara kuantitas) Islam di Jawa bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan.</p>
<p>Namun, mungkin benar juga kata PAT bahwa salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantikan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.</p>
<p>Sang Sultan Jogja pun pernah berkata, sebenarnya mitos-mitos itu hanya untuk mempertahankan kekuasaan, bahwa raja-raja Mataram (yang tidak ada hubungan darah/ keluarga dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya) mendapat restu dari penguasa alam (yang disimbolkan dengan laut kidul &amp; merapi, juga lawu), agar masyarakat awam memberikan dukungan. Restu penguasa plus ketiadaan hubungan darah ini pun digunakan untuk mencegah keturunan dari kerajaan-kerajaan sebelumnya bila hendak menuntut hak tahta.<span id="more-6"></span></p>
<p><strong>Mitos yang Begitu Tua</strong><br />
Mitos laut kidul ini sebenarnya bukan orisinil ide mataram, sejak jaman Galuh di pasundan. Dinasti-dinasti pembangun candi2 di Jawa Tengah &#8211;i.e. Borobudur, Prambanan, Dieng, etc&#8211;, memiliki hubungan keluarga &#8211;dari pernikahan&#8211; dengan kerajaan-kerajaan di pasundan. Diansti ini kemudian musna dan masyarakatnya eksodus ke Jawa Timur, dan oleh Empu Sindok dibentuklah kerajaan baru dengan Airlangga sebagai salah satu penerusnya. Pusaka2 Mataram kuna konon masih ada pada jaman Airlangga. Kemudian jaman berganti dan muncullah Kahuripan, Kediri (dan Jenggala), Singasari, dan Majapahit.</p>
<p>Kesemua kerajaan ini memiliki jalur hubungan keluarga, termasuk pendiri Demak pun anak Brawijaya II, raja Majapahit terahir. Demak dengan Cirebon dan Banten juga memiliki hubungan keluarga. Jaka Tingkir sebagai pendiri Pajang pun merupakan menantu raja Demak, dan ayahnya pun juga keturunan Brawijaya.</p>
<p>Nah, dari alur keluarga ini, mitos laut kidul sudah begitu tuanya. Bahkan penyebarannya demikian luas, bahkan di Nusa Tenggara dan Maluku dikenal juga mitos yang senada, yang mungkin terbawa ketika Sriwijaya (yang memiliki hubungan keluarga yang erat dengan Mataram Kuna) dan Majapahit melakukan ekspansi.</p>
<p>Itu sekedar kekagumanku saja, kok bisa-bisanya cerita setua itu terus-menerus dipertahankan.</p>
<p><strong>Penguasa yang Mampu dan yang Tidak Mampu</strong><br />
Nah, raja-raja Jawa (berlabel) Islam ini memang yang memberi fasilitas bagi perkembangan Islam di tanah Jawa. Namun, tidak semata-mata peran kerajaan saja yang terlibat. Efort zonder kekuasaan pun bisa sukses, misalkan daerah Pengging (Boyolali) yang dimakmurkan oleh Kebo Kananga ayah Jaka Tingkir yang justru menghindar dari kekuasaan, juga berbagai pondok pesantren tua, misalkan di (kalau tidak salah) kebumen yang lebih tua dari kebumen sendiri, yang jauh dari hiruk pikuk kekuasaan.</p>
<p>Penguasa pun tidak selamanya mendukung. Sultan Agung memang OK, tetapi ada keturunannya yang justru menyembelih banyak kiayi. Keturunannya pun ada yang mati dalam pelarian dikejar-kejar rakyatnya. Penguasa ada yang baik ada yang buruk. Sultan Agung dipandang memiliki keluasan ilmu, hingga Islam makmur di jamannya. Adanya penanggalan Jawa-Islam adalah pada jamannya, yang menggabungkan penanggalan Saka (berbasis matahari) dengan Hijriyah (yang qomariayah), dengan angka tahun yang tetap meneruskan tahun Saka (terakhir yang asli) dan tanggal serta bulan yang mengadopsi peredaran bulan yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat, misalkan untuk penentuan masa-masa dalam bertani. Namun ada juga penguasa-penguasa bodoh yang tidak memahami &#8220;ilmu&#8221; dari peninggalan wali sanga dan leluhurnya, malah terjebak di klenik dan tahayul.</p>
<p>Yah, ini mencoba tinjauan dari sisi sejarah, bahwa ada ilmu yang telah dilupakan dan yang melupakan menjadi tersesat</p>
<p><a title="Ilmu &amp; Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)" href="http://odydasa.wordpress.com/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-2/">Bersambung</a>.<br />
p.s. sumber data: dari berbagai tulisan di internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2007/01/22/ilmu-klenik-dan-tradisi-tradisi-tua-islam-jawa-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

