<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OdyDasa &#187; BisTel</title>
	<atom:link href="http://blog.odydasa.web.id/category/bistel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.odydasa.web.id</link>
	<description>berbaring, tertidur, bertelur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Jun 2011 05:48:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Infrastruktur Internet di Indonesia</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2010/10/14/infrastruktur-internet-di-indonesia/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2010/10/14/infrastruktur-internet-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 12:45:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[BisTel]]></category>
		<category><![CDATA[ICT]]></category>
		<category><![CDATA[ICT Policy]]></category>
		<category><![CDATA[Keminter]]></category>
		<category><![CDATA[Telecom]]></category>
		<category><![CDATA[ajax]]></category>
		<category><![CDATA[application provider]]></category>
		<category><![CDATA[asp]]></category>
		<category><![CDATA[blokir situs]]></category>
		<category><![CDATA[cdma]]></category>
		<category><![CDATA[content provider]]></category>
		<category><![CDATA[dynamic html]]></category>
		<category><![CDATA[e-commerce]]></category>
		<category><![CDATA[frekuensi]]></category>
		<category><![CDATA[html 5]]></category>
		<category><![CDATA[i-banking]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[industri kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[internet service provider]]></category>
		<category><![CDATA[ip pbx]]></category>
		<category><![CDATA[isp]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[lisensi]]></category>
		<category><![CDATA[lte]]></category>
		<category><![CDATA[network]]></category>
		<category><![CDATA[operator]]></category>
		<category><![CDATA[orbit]]></category>
		<category><![CDATA[pcb]]></category>
		<category><![CDATA[penyedia aplikasi]]></category>
		<category><![CDATA[penyedia hardware]]></category>
		<category><![CDATA[penyedia jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[penyedia konten]]></category>
		<category><![CDATA[penyedia layanan]]></category>
		<category><![CDATA[penyedia software]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan transaksi]]></category>
		<category><![CDATA[provider]]></category>
		<category><![CDATA[regulasi]]></category>
		<category><![CDATA[ring palapa]]></category>
		<category><![CDATA[RPM konten]]></category>
		<category><![CDATA[satelit]]></category>
		<category><![CDATA[service provider]]></category>
		<category><![CDATA[sistem informasi]]></category>
		<category><![CDATA[software house]]></category>
		<category><![CDATA[spektrum radio]]></category>
		<category><![CDATA[suplier]]></category>
		<category><![CDATA[sweeping]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi informasi]]></category>
		<category><![CDATA[telekomunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[undang-undang]]></category>
		<category><![CDATA[uu ITE]]></category>
		<category><![CDATA[uu telekomunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[vendoor]]></category>
		<category><![CDATA[voip]]></category>
		<category><![CDATA[wavelan]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[wifi]]></category>
		<category><![CDATA[wimax]]></category>
		<category><![CDATA[wireless lan]]></category>
		<category><![CDATA[wlan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita lihat sektor telekomunikasi, *teknologi* informasi, maupun *sistem* informasi (nah, ada sistem dan ada teknologinya, apa perbedaannya?), termasuk internet di dalamnya (terutama arsitektur dan aplikasinya), terdapat beberapa area yang saling terkait, yaitu dalam hal penyediaan jaringan, penyediaan jasa/ layanan, penyediaan aplikasi, dan vendor/ suplier (baik software maupun hardware): Penyediaan jaringan Biasanya oleh operator telekomunikasi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2010/10/ar123506242611053.jpg"></a>Kalau kita lihat sektor telekomunikasi, *teknologi* informasi, maupun *sistem* informasi (nah, ada sistem dan ada teknologinya, apa perbedaannya?), termasuk internet di dalamnya (terutama arsitektur dan aplikasinya), terdapat beberapa area yang saling terkait, yaitu dalam hal penyediaan jaringan, penyediaan jasa/ layanan, penyediaan aplikasi, dan <em>vendor</em>/ suplier (baik <em>software</em> maupun <em>hardware</em>):</p>
<ul>
<li style="list-style: none"></li>
<li>Penyediaan jaringan<br />
Biasanya oleh operator telekomunikasi, oleh yang punya satelit, oleh yang punya FO (fiber optik, serat optik), oleh yang punya <em>backbone</em>, dan lain-lain.<br />
Kebanyakan penyedia jaringan juga menjadi penyedia layanan.</li>
<li>Penyediaan layanan<br />
ISP sebagai penyedia jasa internet. Operator telekomunikasi menyediakan layanan telepon (lokal, interlokal, internasional).</li>
<li>Penyediaan aplikasi<br />
Aplikasi, seperti misalkan Google Apps,Â  WordPress, disediakan untuk pengguna/ <em>client</em> (termasuk yang berbayar). Aplikasi di balik detik.com disediakan pula oleh penyedia semacam ini, sedangkan konten berita diisi oleh pengelola detik.com.</li>
<li>Penyediaan konten<br />
Sub sektor ini yang semakin marak, ditunjang berkembangnya sektor industri kreatif, baik dalam hal konten informasi, konten multimedia,</li>
<li>Penyediaan hardware &amp; software &#8211;&gt; <em>vendor</em>, suplier.</li>
</ul>
<p><span id="more-116"></span>
<p>(*catatan: pembagian sektor maupun subsektor bukan berdasar pembakuan)</p>
<p>Kemudian, ketika kita bicara tentang internet, mulai dari kualitas &amp; kuantitas akses, aplikasi, konten, dan sebagainya, tentu semua <em>provider</em> di atas adalah pemangku kepentingannya.<br />
Infrastruktur? Tentu semua aspek pada kesemua jenis penyedia di atas memiliki infrastruktur yang harus dikembangkan.</p>
<p><strong>Jaringan</strong></p>
<p><em>Wireless</em>, yang memang favorit di <em>end user</em> genit macam di sini, tentu tidak bisa mengalahkan koneksi optik yg berorde tera bps, yang, macam di Australia, akses sampai ke rumah pun hendak di-&#8221;optik&#8221;-kan (FTTH, FTTB, FTTZ, FTTx, dll). Data berbasis multimedia untuk ditransfer hingga rumah pun akan menjadi sangat berlimpah. Tentu, pertukaran data berbasis optik lebih <em>realtime</em> dibandingkan dengan satelit.</p>
<p>IPTV yang menjanjikan kemudahan seperti kita menyetel TV konvensional dan dengan kualitas setara HDTV, mensyaratkan sekitar 10 Mbps laju koneksi per kanal siaran. Dengan 3 TV yang menyala paralel di rumah, pengguna pada masing-masing TV suka gonta-ganti kanal siaran, tentu dibutuhkan laju lebih dari 30 Mbps. Jelas, kebutuhan laju koneksi ini bukanlah jenis koneksi &#8220;up to&#8221; sebagaimana yang banyak ISP dan operator <em>mobile phone</em> suka menawarkan. Itu adalah kebutuhan &#8220;start from&#8221;.</p>
<p>Namun, jaringan akses optik (ke pelanggan) dengan jaringan <em>backbone</em> yang seadanya, seperti membayangkan PDAM memasang pipa berdiameter 1 m di semua rumah, yang tersambung dengan pipa utama ke sumber air dengan diameter 10cm.</p>
<p>Jadi, apapun kondisi dan tantangannya (baca: hambatannya), tanpa proyek Ring Palapa, ya, kita hanya bisa <em>ngaplo bin ndlongop</em> aja. Sesukses apapun Wimax ataupun LTE, tanpa optik penghubung antar <em>tower</em>-nya, <em>ya sami mawon</em>.</p>
<p><strong>Regulasi-Kebijakan dan Etika Penyelenggaraan Jasa</strong></p>
<p>UU Telekomunikasi mengatur penyelenggaraan telekomunikasi (dalam penyelenggaraan jaringan, jasa, dan telekomunikasi khusus), siapa saja yang diperbolehkan, anti-monopoli, hak dan kewajiban, termasuk masalah interkoneksi, penomoran, pentarifan, pengamanan, hingga masalah perangkat, spektrum radio, dan orbit satelit.</p>
<p>Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di khatulistiwa di antara 2 benua dan 2 samudera, apa keistimewaannya? Ipoleksosbudhankamnas menjawabnya.</p>
<p>Namun, ketika kita melihat orbit satelit, maka angkasa khatulistiwa adalah tempat favorit orbitnya. Kemudian, ketika peluncuran satelit yang mensyaratkan terletak di pinggir laut (jika gagal meluncur maka diset agar jatuh ke laut dan bukan ke daerah perumahan) dan di suatu pulau (agar akses penyusupan terbatasi), maka daerah kepulauan juga favorit. Akses dengan bandara internasional? Tentu itu dibutuhkan, dan tanpa membuat baru, ada beberapa tempat di negeri ini yang bisa dikembangkan. Biak dan Enggano adalah titik luncur yang posisinya tidak akan kalah dengan yang di luar negeri sana. Sayangnya, kita tidak bisa mengatur satelit milik siapa saja yang diperbolehkan di angkasa nusantara, karena sudah kita terikat dengan pengaturan oleh lembaga internasional macam ITU. Nah, <em>tuh</em> di atas Sulawesi beredar satelit milik siapa?</p>
<p>Penggunaan frekuensi (spektrum radio) pun perlu pertarungan antara masyarakat dan pemerintah untuk bisa menggunakan spektrum tertentu yang tanpa perlu mendapat lisensi. Jika di komunikasi radio konvensional dikenal adanya CB, citizen band, rentang spektrum frekuensi yang bisa digunakan oleh masyarakat tanpa lisensi, maka di komunikasi radio digital pun dikehendaki pada slot sekitar 2 GHz dapat digunakan tanpa lisensi.</p>
<p>Kenapa 2 GHz? Perlu diperhatikan karakteristik propagasi gelombang radio, misalkan dalam hal scattering, pemantulan, dan sebagainya, yang berbeda-beda pada berbagai frekuensi. Yang pasti, jika slot tersebut handal, maka militer dan para ilmuwan akan mempertahankannya agar jangan dipakai oleh umum.</p>
<p>Sistem berbasis radio rentan gangguan interferensi dari frekuensi yang berdekatan. Sistem sel (sebagaimana di tower telepon selular) mengatur penggunaan frekuensi agar tidak saling berinterferensi. Pada sistem berbasis spektral tersebar (<em>spread-spectrum</em>) semacam CDMA maupun WiFi, sinyal lain dianggap sebagai gangguan (<em>noise</em>), dan semakin besar gangguan maka kualitas komunikasi menjadi semakin buruk. Dapat diibaratkan dalam 1 ruang bersama, misalkan kantin, orang dapat berkelompok dan melakukan pembicaraan terpisah tanpa saling mengganggu terhadap kelompok lain. Namun, ketika ada satu orang berteriak, tentu akan mengganggu yang lain. Ketika semua berteriak, nah, itulah <em>chaos</em>.</p>
<p>Dengan pembagian <em>channel</em> pada tiap pemancar yang tidak ada yang mengatur, semaunya sendiri, daya pancar setiap <em>transmitter</em> pada <em>access point</em> yang adu besar, maka itulah <em>chaos</em> pada WiFi yang ada di sini. Semua adu teriak, membesarkan volume (daya) pancaran. Tidak ada yang mengatur siapa di mana menggunakan <em>channel</em> frekuensi berapa. Perangkat yang tidak memenuhi standardisasi yang disyaratkan, tentu akan membuat pengguna menjadi <em>jor-joran</em> dalam daya pancar, dengan spektrum yang bocor di sana sini dan mengganggu spektrum lainnya. Dan bagi yang lain, itu adalah <em>noise</em> yang membuat kualitas komunikasi yang diukur dalam SNR menjadi semakin kecil.</p>
<p>Bukan adu teriak, seharusnya, melainkan adu berbisik. Dengan daya seminimal mungkin, dengan optimasi pada pembagian kanal frekuensi, rekayasa pada polarisasi dan <em>beam</em> antena, tentu akan jadi jalan keluar yang membahagiakan. Komunikasi lancar semacam yang terjadi pada kelompok-kelompok terpisah pada kantin yang sama.</p>
<p>WaveLAN, WirelessLAN, maupun WiFi adalah bahasa prokem untuk mengistilahkan teknologi yang sama. Perhatikan bahwa di situ ada terminologi LAN yang digunakan, local area network, yang berarti pada dasarnya teknologi ini dikembangkan untuk melayani komunikasi dalam area lokal, LAN. Kreativitas kita yang tinggi membuat teknologi LAN ini dijadikan <em>backbone</em> untuk komunikasi antar-kota. Salah kah? Tidak ada yang salah dan benar dalam teknologi, yang ada adalah untuk setiap pemakaian selalu ada konsekuensinya. WLAN tidak dirancang untuk modulasi yang <em>robust</em> untuk jarak yang jauh.</p>
<p>Regulasi teknologi, pengaturan dalam lisensi juga jadi titik kritis. Alih-alih izin penyelenggaraan, penyedia jasa VoIP justru rentan dibidik untuk dijadikan pelanggar UU Telkomunikasi. <em>Sweeping</em> frekuensi yang dianggap telah digunakan tanpa lisensi juga selalu menjadi momok.</p>
<p>Dalam penyelenggaraan jasa, maka bisnis turut bicara. Persaingan usaha antar-operator, diramaikan dengan masuknya berbagai operator dari luar, baik dengan merek baru maupun dengan mengakuisisi operator lokal, memang diharapkan akan menggairahkan pengguna dengan beragamnya fasilitas yang ditawarkan dan dengan tarif yang menggiurkan. Kita yang sering kali <em>neg</em> dengan layanan &#8220;produk lokal&#8221; dari operator milik bangsa ini, tentu mendukung ramainya persaingan itu. Namun, hati-hati, VOC itu adalah perusahaan, dan dengan sukses menjajah bangsa ini. Mau melawan? Tentu operator milik sendiri yang harus diberdayakan. Masalahnya adalah, kita sebagai pengguna justru tidak dianggap.</p>
<p>Perang dalam peran saling menjajah sudah nampak dalam persaingan tarif yang dibungkus dengan hasutan iklan yang kenes dan juga kasar. Adalah hasutan untuk menerima bahwa tarif dan kualitas yang diberikan laksana di surga. Kasar? Nah, jejeran baliho dari operator yang berbeda yang gambarnya saling menjatuhkan, bukan lagi hal tabu. Tapi bagiku tetap menjijikkan.</p>
<p><strong><em>Application Provider &amp; Vendor</em><br /></strong></p>
<p><em>Software vendor</em> berkembang seiring dengan berkembangnya para <em>entrepreneurs</em> di bidang <em>software house</em>, dan beberapa di antaranya bahkan berani mengembangkan diri sebagai <em>application provider</em> dengan menggunakan <em>software</em> yang mereka bikin sebagai <em>frame work</em> suatu aplikasi yang <em>customable</em>. Pada dunia <em>mobile phone</em>, bisnis dan penyediaan <em>software</em> untuk permainan mapun aplikasi-aplikasi, baik berupa <em>tools</em> maupun yang berkaitan dengan layanan dari operator selular terkait, cukup menjanjikan.</p>
<p><em>Hardware vendor</em> nasibnya masih <em>ngenes</em>, tapi masih banyak yang tetap semangat. Gimana tidak <em>ngenes</em>, mau mengembangkan yang canggih, mau bikin PCB ber-<em>layer</em> banyak macam tumpukan wafer saja, siapa yg mau bikin. Pabrik komponen elektronika, IC, VLSI, dan lain-lain, di mana mereka berada? Mau membuat yang tidak terlalu canggih, jelas patah arang dengan serbuan barang dari Cina dan sekitarnya yang jelas murah meriah dan (relatif) berkualitas. Padahal, perangkat jaringan sebenarnya bisa dikembangkan sendiri, tidak harus semahal (dan sebagus) Cisco, paling tidak kalau bisa menjajarkan diri sebaimana Mikrotik.</p>
<p>Berangkat dari pengalaman sebagai VoIP <em>service provider</em> perjuangan anak bangsa, VoIP Rakyat, pendiri dan developernya mengembangkan <em>hardware</em> untuk IPPBX. Strategi yang digunakan adalah OEM, membeli produk dan mendapat lisensi untuk memberi merek sendiri. Tapi, nampaknya dyang bersangkutan mempertimbangkan ODM, membuat desain dan memiliki merek serta lisensi sendiri, sedangkan pembuatannya dipesankan ke suatu pabrik (tidak bikin sendiri).</p>
<p><strong>Konten</strong></p>
<p>Industri konten (baik informasi maupun presentasinya) begitu berkembang ditunjang oleh menjamurnya industri kreatif. Tentu bukan semacam kreativitas untuk berkreasi menciptakan industri konten porno, yang walaupun juga berkembang, tetapi jelas bukan itu yang diharapkan. Selain dalam industri kreatif, moda bisnis di internet pun berkembang. Belanja <em>online</em> tidak hanya berupa melalui halaman web saja, tetapi digabung dengan tampilan 3D interaktif seperti halnya dalam game, atau bahkan digabung dengan <em>virtual reality</em>, yang tentunya membutuhkan dukungan aplikasi dan konten yang kaya.</p>
<p>Web pun mengalami perubahan tren yang signifikan, mulai dari konten web yang statis, kemudian konten dinamis yang disesuaikan dengan pengaturan dari si empunya web, dan saat ini hanya disediakan aplikasi web saja. Kontennya? Silakan pengguna yang mengisi (atau mencari) sendiri berdasar kebutuhan sendiri. Tren para kaum sosialis melalui media sosial menunjukkan pergeseran tersebut. Aplikasi yang memfasilitasi pengguna untuk berbagi konten (baik foto narsis, pemikiran mendalam hingga komentar yang tidak bermutu) adalah ruh yang diangkat, dan menjadi versi kedua dari web, Web 2.0. Teknologi tentu berpengaruh, karena tanpa dynamic HTML, AJAX, dan nantinya ada HTML 5, serta laju koneksi menjadi penentu.</p>
<p>Alih-alih mencegah konten porno, tanpa basis pemahaman yang jelas, regulasi malah justru kontraproduktif. Konten informasi yang berkaitan dengan Hankamnas (juga kepentingan umum), tentu perlu pengaturan yang <em>nggenah</em>, yang tidak sekedar blokir konten ini itu, sadap komunikasi ini itu. Keamanan rekening bank adalah hal yang serius, sama seriusnya dengan kemanan yang menjamin privasi dalam berkomunikasi. Jika privasi ini disalahgunakan oleh koruptor? Peng-<em>nggenah</em>-an pengaturan ini yang harus jadi jawaban.</p>
<p>Penggunaan konten informasi yang bukan haknya dan penggunaan komunikasi yang mengancam kepentingan umum, harusnya bisa dijawab oleh UU-ITE dan Permen Konten. Bagaimana pengaturannya? Yang bisa saya jawab adalah, jika suatu urusan tidak diberikan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.</p>
<p>UU-ITE harusnya melindungi nasabah dari pencurian uang melalui ATM, dari kesalahan (kelemahan) bank dalam transaksi yang merugikan nasabah, perampok cyber semacam di filem Golden Eyes, penyalahgunaan data nasabah oleh pihak lain, mulai dari penawaran oleh pihak yang tidak jelas berupa kartu kredit, asuransi, dan sebagainya, hingga pembobolan rekening melalui pemalsuan kartu kredit, perlindungan pada transaksi <em>e-commerce</em> mapun <em>i-banking</em> (BI hendaknya punya regulasi yang baik yang harus dipatuhi oleh semua penyelenggara <em>i-banking</em>), dan sebagainya.</p>
<p>Regulasi mengenai konten pun tidak bisa serta merta selesai dengan membuat daftar pemblokiran situs. Pengelolaan konten nantinya juga tidak lepas dari permasalahan teknis, termasuk hingga ke level protokol data. Misalkan bagaiman ketika ada teknologi Direct-to-Home Satellite Services, berupa layanan global yang dapat diakses dari rumah, bisa dilakukan pengaturan konten pada layanannya, mengacu pada hankam dan kepentingan umum tentunya. Negara-negara Eropa seperti Jerman dan Perancis bisa memaksa semua filem Hollywood dan filem di TV di-dubbing dalam bahasa mereka sendiri, dan bukan bahasa Inggris, yang tentu akan berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri dalam hal budaya.</p>
<p>Bagaimana menangani hal itu dengan setiap kali hadirnya teknologi baru? Ini tantantangannya. Dan kita memerlukan <em>right man on the right place</em> untuk itu. Bahkan, untuk mengelola konten porno pun, akan konyol jika solusinya hanya berupa daftar URL &amp; pola <em>keyword</em> terlarang. Perlu cara untuk secara otomatis ada aplikasi yang bisa menyaring gambar <em>kinyis-kinyis</em> kah?</p>
<p>Penanganan konten porno, ke depan, akan mengacu ke metoda sebagaimana penanganan <em>malware</em>. Penyaringan berdasar konten akan ditinggalkan, dan digantikan dengan penyaringan berdasar perilaku akses.</p>
<p><strong>Kerangka dalam Pengembangan Infrastruktur</strong></p>
<p>Dari tulisan di atas, infrastruktur yang perlu dikembangkan yang berhubungan dengan internet, akan meliputi semua aspek, tidak hanya jaringan.</p>
<p>Bahkan untuk jaringan pun sesepele menghubungkan tiap kantor kalurahan dengan WiFi, perlu infrastruktur yang strategis, yang membedakan yang mana yang harus dilakukan oleh negara (karena isu strategis dan karena batasan kemampuan), yang mana yang hendaknya diserahkan pengembangannya kepada komunitas, sambil tetap memberdayakan komunitas tersebut untuk dapat meregulasi diri sendiri dengan baik (misalkan contoh kasus WiFi di atas). Diperlukan pengembangan infrastruktur backbone, jaringan akses, hingga interkoneksi yang baik.</p>
<p>Infrastruktur dalam regulasi dan kebijakan diperlukan untuk mempertemukan aspek strategis bagi kepentingan bangsa, bisnis yang beretika, serta perlindungan pengguna untuk dapat menikmati teknologi dengan aman dan tanpa gangguan.</p>
<p>Infrastruktur yang mendukung pengembangan industri hardware dan software, serta bisnis aplikasinya, serta dukungan terhadap industri kreatif, janganlah perhatian untuk itu dialihkan kepada gosip tidak bermutu seputar konflik UU-ITE dan RPM Konten. Kedua regulasi tersebut lebih patut digunakan untuk infrastruktur perlindungan pengguna, seperti di atas, termasuk dalam hal perlindungan terhadap <em>side effect</em> dari suatu teknologi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2010/10/14/infrastruktur-internet-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telkom: Orientasi Berganti, Komitmen Pun Dikemanakan?</title>
		<link>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/</link>
		<comments>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 16:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>odydasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[BisTel]]></category>
		<category><![CDATA[ngGedebus]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[commited to you]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>
		<category><![CDATA[pelanggan]]></category>
		<category><![CDATA[telkom]]></category>
		<category><![CDATA[the world in your hand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.odydasa.web.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa minggu terakhir beredar logo baru Telkom dan komentar-komentar mengenainya, malam ini baru aku benar-benar memperhatikan bagaimana logo baru itu. Kesan pertama: bagus. Bagus, dalam arti Telkom mau mengubah diri dengan suatu citra yang lebih cerah, dengan tetap mendominankan warna biru sebagai ciri khas selama ini. Berani meninggalkan logo lama yang tidak cocok dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/kantor_telkom.jpg" alt="kantor telkom" hspace="10" vspace="10" width="200" height="123" align="left" />Setelah beberapa minggu terakhir beredar logo baru Telkom dan komentar-komentar mengenainya, malam ini baru aku benar-benar memperhatikan bagaimana logo baru itu.</p>
<p>Kesan pertama: bagus. Bagus, dalam arti Telkom mau mengubah diri dengan suatu citra yang lebih cerah, dengan tetap mendominankan warna biru sebagai ciri khas selama ini. Berani meninggalkan logo lama yang tidak cocok dengan suasana (dunia) yang lebih cerah dan lebih terbuka. Kesan berikutnya: lucu. Yakin, pertama melihat kok langsung tercetak di otak gambaran mengenai ayam jantan ya? Agak-agak cupu, kata komentator di Kaskus.<span id="more-56"></span></p>
<p>Ada makna filosofi dengan adanya logo baru itu, tentu. Makna yang bagiku pribadi tidak terlalu penting. Walaupun logo yang &#8220;old-school&#8221; lebih punya <em>soul</em>, dan logo yang baru agak kekanak-kanakan dan kurang profesional, berani berubah, itu hal yang penting. Perubahan yang penting sebagai &#8220;<em>charging</em>&#8221; semangat bagi para pegawai BUMN ini.</p>
<p>Bagian yang kukira sebagai <em>jengger</em> alias jambul ayam jantan, ternyata bisa dilihat sebagai tangan melambai, pernyataan selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa depan. Namun, lambaian tangan itu sebenarnya bukanlah arti logo.</p>
<p><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/telkom_baru.png" alt="telkom baru" hspace="10" vspace="10" width="200" height="107" align="left" /><img src="http://blog.odydasa.web.id/wp-content/uploads/2009/10/telkom_lama.png" alt="telkom lama" hspace="10" vspace="10" width="120" height="150" align="left" /></p>
<p>Filosofi baru akan berhubungan dengan strategi baru. Efisiensi dan produktivitas merupakan isu yang muncul sejak lama, menjadi <em>world class company</em> tetap jadi impian utama, dan Telkom pun berkepentingan untuk mengakuisisi berbagai perusahaan di luar negeri menjadi bagian dalam <em>holding group</em>-nya. Apalagi ketika perusahaan-perusahaan dari luar negeri telah mencaplok operator ini itu di negeri ini, Telkom jangan sampai ketinggalan dalam perebutan kue.<br />
<strong>The World in Your Hand</strong></p>
<p>Di-<em>softlaunch-</em>kan sudah pada tanggal 16 Oktober 2009, dan malam ini, Jumat tanggal 23 Oktober 2009 pukul 20.30 s.d. 21.30 WIB ada acara <em>live</em> TransTV untuk peluncuran yang sebenarnya, bersamaan dengan Indigo Awards, sekaligus sebagai penanda ulang tahun Telkom. Saya tidak menonton.</p>
<p>Perubahan ini menjelaskan visi baru Telkom di bidang telekomunikasi, informasi, media, <em>edutainment</em>. Dengan <em>positioning</em> berupa &#8220;<em>Life Confident</em>&#8220;, Telkom mengusung <em>tagline</em> yang juga baru, yaitu &#8220;<em>The World Is In Your Hand</em>&#8220;. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, <em>tagline</em> baru, <em>brand positioning</em> &#8220;<em>Life Confident</em>&#8220;. Diharapkan, pesan &#8220;<em>Life Confident</em>&#8221; sendiri langsung membangkitkan optimisme.</p>
<p>Jadi, sekarang tidak ada lagi slogan &#8220;<em>Comitted 2 You</em>&#8220;.</p>
<p>Nah, siap-siap saja, komitmen Telkom tidak lagi untuk kita, para pelanggannya.</p>
<p><em>Quo vadis,</em> mau dibawa kemana Telkom?</p>
<p>┬á</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Minggu kemarin, ada petugas yang menangani PSB (pasang baru) telepon di rumah di samping rumahku, selisih satu rumah. Petugas tersebut tanpa <em>unggah ungguh</em> dan kasar dalam menjalankan tugasnya. Jadilah dia sebagai bahan <em>gerundelan</em> ibu-ibu di sekitarku. Ditambah lagi, gara-gara dia yang main sogok kabel di sana-sini, matilah jalur telepon di rumah, dan celakalah internetku (Heran, telepon dites tidak ada nada panggil, dilakukan <em>incoming call</em> ada nada panggil, tetapi Speedy tetap nyambung walaupun dengan <em>rate</em> sebesar 1/10 dari normalnya. Untung kenal dengan Pak Bos Telkom di kotaku, aku memberikan komplain dengan malu-malu (gak enak harus <em>ngrusuhi</em>, dan karena tahu itu bukan pegawai Telkom melainkan tenaga lepas), jadilah jalur teleponku berfungsi normal kembali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.odydasa.web.id/2009/10/23/telkom-orientasi-berganti-komitmen-pun-dikemanakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

