OdyDasa

berbaring, tertidur, bertelur

Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (3)

Budaya Terbuka v.s. Budaya Gedibal: Kejawen Perlu Diluruskan Kembali
Salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantukan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.

Kepicikan dan kejumudan yang didasari oleh sikap ambigu; menerima, tetapi menolak dominasi asing, menerima pengaruh asing, tetapi pilih-pilih, menerima pengaruh, tetapi dicampur dan direkayasa sesuai kehendak.

Kemudian, untuk melawan keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin sebagai khas pekerja dan pedangan, sekaligus untuk mengekalkan kepicikan dan kejumudan, dibuatlah paham: “dedagang iku asor“, berdagang itu hina. Efeknya, lahirlah para orang yang lebih rela mengabdi kepada kekuasaan, sebagai pesuruh, sebagai “gedibal“, bala sadhukan, orang-orang yang bisa ditendang ke sana ke mari, yang dilengkapi dengan etik kerja malas dan menjilat. Dua kutub yang di dunia kerja saat ini masih terus ada: menjadi buruh (swasta/ negri) atau enterpreuner.

Sedangkan ilmu dan “lelaku” untuk malas dan menjilat itu tidaklah serumit dan seberat pada “lelaku” untuk rajin dan open-hearted.

Dengan kata lain, ilmu-ilmu warisan leluhur semangkin lama semangkin hilang, semangkin lama tidak ada lagi yang memahami. Yang dipertahankan hanyalah hapalan terhadap label dan prosesi, tetapi tanpa ilmu yang melandasi, yang kemudian semakin diagung-agungkan. Nasib Islam mungkin tak akan jauh sebagaimana nasib gamelan yang sedianya untuk memikat masyarakat agar mau mendekat dan menerima budaya baru, tetapi bukan untuk dimanfaatkan melainkan malah disembah-sembah. Bid’ah, syirik, klenik, sesat dan menyesatkan.

Syukurlah, belum lama ini ada kabar bahwa UII dan UMS tergerak untuk mengkaji kultur-kultur kraton dalam kaitannya dengan Islam, yang diharapkan dapat membuka kembali ilmu-ilmu yang melandasi berbagai prosesi.

Kesimpulannya:

[] Klenik adalah amalan tanpa ilmu.

[] Sedangkan tradisi2 tua makin lama pemahanan keilmuannya makin hilang, dengan kata lain sering kali menjadi prosesi tanpa pemahaman keilmuan.

[] A=B, C=B, maka C=A

(Sementara) Tamat

p.s. SUmber data: dari berbagai artikel di internet

Categories: ngGedebus - Sosio-Kultur
Diva
Bolehkah saya, tanya… kalau ilmu kejawan itu apa ya. mungkin bapak tahu, makasih
1 March 07 at 11:59
H.David Omar A
once upon a time……..
7 May 09 at 08:25
KARISMA
WONG BODO NGERTI WONG PINTER KEBLINGER,,,
19 October 10 at 19:22